Tiga Smelter Raksasa Vale Indonesia Pacu Progres, Target Operasi 2026-2027

- Senin, 19 Januari 2026 | 16:54 WIB
Tiga Smelter Raksasa Vale Indonesia Pacu Progres, Target Operasi 2026-2027

Perkembangan tiga proyek smelter nikel milik PT Vale Indonesia Tbk (INCO) terus bergulir. Bernardus Irmanto, Direktur Utama perusahaan, memaparkan kemajuannya dalam rapat dengan Komisi XII DPR, Senin (19/1). Ketiga proyek High Pressure Acid Leaching (HPAL) itu tersebar di Sulawesi, tepatnya di Pomalaa, Bahodopi, dan Sorowako.

Yang paling cepat progresnya adalah proyek di Pomalaa, Sulawesi Tenggara. Bernardus menyebut, dua autoclave peralatan inti untuk proses HPAL sudah tiba di lokasi. Masih ada tiga lagi yang bakal menyusul.

"Progres sampai dengan saat ini, dua autoclave sudah datang, dan kemudian autoclave yang lain akan menyusul, ada lima autoclave yang akan datang," jelasnya.

Dia menargetkan mechanical completion atau penyelesaian tahap mekanik bakal tercapai pada Agustus 2026. Saat itu, smelter sudah harus siap menerima pasokan bijih. Mereka perlu menyiapkan stockpile yang cukup untuk operasi selama tiga bulan.

"Saat ini, konstruksi sudah mencapai 60 persen dan kita harapkan di bulan Agustus tahun 2026 itu dalam tanda kutip sudah bisa melakukan mechanical completion," imbuh Bernardus.

Proyek ini merupakan kerja sama dengan raksasa baterai asal China, Zhejiang Huayou Cobalt, dan Ford Motor dari AS. Kapasitas produksinya ditargetkan mencapai 120 ribu ton Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) per tahun. Pasokan bijihnya akan datang dari Blok Pomalaa yang punya cadangan lumayan besar: 21 juta ton limonite dan 7 juta ton saprolite setiap tahunnya.

Lalu, ada proyek kedua di Bahodopi, Sulawesi Tengah. Skemanya mirip: smelter HPAL plus tambang, tapi dengan mitra berbeda. Vale menggandeng GEM dari China dan Ecopro asal Korea Selatan.

Target penyelesaiannya di kuartal IV 2026. Namun, Bernardus sedikit berharap. "Mudah-mudahan semua hal terkait dengan perizinan bisa cepat kami peroleh," ungkapnya. Izin, seperti biasa, sering jadi penentu.

Smelter Bahodopi ini dirancang untuk menelan 5,5 juta ton saprolite dan 10,4 juta ton limonite per tahun. Keluaran yang diharapkan sekitar 66 ribu ton MHP. Sama seperti di Pomalaa, mereka juga butuh stok bijih untuk tiga bulan operasi.

Nah, yang terakhir adalah proyek di Sorowako, Sulawesi Selatan. Ini agak tertinggal. Progres fisiknya baru sekitar 17 persen. Mitranya masih Zhejiang Huayou Cobalt, tapi kemungkinan ada partner ketiga yang masih dalam tahap penilaian.

"Ini joint venture juga antara Vale dan Huayou, walaupun partner yang kemudian akan menjadi partner ketiga masih dalam assessment. Tapi ini mungkin secara progres ini yang paling terlambat dibandingkan dengan Pomala dan Bahodopi," papar Bernardus.

Target operasinya baru di tahun 2027. Kapasitasnya lebih kecil, sekitar 60 ribu ton MHP per tahun, dengan kebutuhan bahan baku 11,5 juta ton limonite.

Di akhir pemaparannya, Bernardus meminta dukungan dari anggota dewan. Pasokan bijih nikel untuk ketiga smelter ini harus terjaga kelangsungannya. Semua proyek, menurutnya, berjalan sesuai rencana.

"Diharapkan di Pomalaa di Agustus bisa selesai paling tidak dua autoclave, dua line. Kemudian nanti secara reguler, secara bertahap akan di Januari 2027 itu sudah selesai semuanya. Kemudian yang di Bahodopi juga diperkirakan kuartal IV tahun ini juga jadi, dan kemudian yang di Sorowako diharapkan 2027," pungkasnya.

Jadi, itulah update terkininya. Jika tak ada kendala berarti, dalam dua-tiga tahun ke depan, ketiga smelter raksasa ini akan mulai beroperasi dan mengolah nikel di tanah Sulawesi.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar