Kondisi darurat bencana alam di Aceh ternyata tak hanya memerlukan respons cepat di lapangan, tapi juga penyesuaian kebijakan. Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) memutuskan untuk menambah kuota BBM subsidi dan kompensasi negara untuk provinsi itu di tahun 2026. Intinya, mereka ingin memastikan pasokan energi buat masyarakat yang terdampak tetap lancar, mengingat status tanggap darurat masih berlaku hingga awal tahun depan.
Kepala BPH Migas, Wahyudi Anas, menjelaskan alasan di balik keputusan ini. “Alokasi kuota BBM untuk wilayah Banda Aceh tahun 2026 kita berikan kurang lebih 104 persen dari realisasi yang kami sampaikan tahun 2025. Jadi ada kenaikan. Berikutnya untuk Pertalite, ada kenaikan sebesar 102,1 persen,” ujarnya saat meninjau penyaluran BBM di Lhokseumawe, Sabtu lalu.
Menurut Wahyudi, peningkatan ini diharapkan bisa menutup kebutuhan selama masa darurat. Realitas di lapangan memang menunjukkan lonjakan. Sepanjang 2025, penyaluran biosolar di Aceh termasuk untuk penanganan bencana mencapai 428 ribu kiloliter lebih, sementara Pertalite nyaris 576 ribu kiloliter.
“Selama bencana alam mulai akhir November sampai Desember itu naik 8 persen, tapi khusus pas bencana alam. Tapi secara nasional dari penetapan kuota masih di bawah tahun 2025, 95 persen untuk pertalite, 98 persen sekian untuk biosolar,” tambahnya, merinci.
Nah, langkah lain yang diambil adalah relaksasi aturan. Sejak 28 November tahun lalu, pembelian BBM subsidi di wilayah terdampak bisa dilakukan tanpa QR Code. Prosesnya dilayani manual di semua penyalur. Subsidi itu juga diperluas cakupannya, tak cuma untuk warga biasa, tapi juga untuk alat berat, kendaraan dinas, dan kendaraan posko penanganan bencana.
Kunjungan Wahyudi ke Aceh bukan cuma urusan kuota. Dia juga menyalurkan bantuan langsung ke warga yang terkena dampak banjir dan longsor di Bener Meriah. Bantuan itu termasuk 4 unit genset untuk Desa Uning Mas, desa yang terpencil di atas bukit.
Keadaan di Uning Mas memang memprihatinkan. Banjir bandang yang membawa material longsor menghanyutkan rumah, jembatan, hingga jaringan listrik. Akibatnya, desa itu sempat gelap gulita, padam total. Genset dari BPH Migas diharapkan bisa jadi solusi sementara.
Selain genset, ada juga bantuan sembako. Sebanyak 500 paket berisi beras, gula, minyak, dan mie instan dibagikan ke tiga desa: Alue Krak Kayee, Tanjong Dalam Selatan, dan tentu saja, Uning Mas.
Di sisi lain, bagaimana dengan stok BBM di Aceh sendiri? Pertamina Patra Niaga lewat Executive General Manager Regional Sumbagut, Sunardi, menyatakan kondisi stok aman. Rata-rata ketahanannya sekitar 5 hari.
“Jadi secara umum kondisi stok di 5 depot itu sampai paling kecil 5 hari ke depan. Tapi kondisinya reguler, kapal RTD-nya 3 hari masuk. Insyaallah aman,” kata Sunardi.
Dia merinci posisi stok di lima terminal BBM Aceh. Di Lhokseumawe, biosolar cukup untuk 5 hari, Pertalite 5,6 hari. Krueng Raya: solar 5,75 hari, Pertalite 10 hari. Meulaboh lebih panjang, biosolar 8,3 hari dan Pertalite 8,57 hari.
Yang menarik adalah kondisi di wilayah kepulauan. “Simeulue untuk solar itu ketahanan stoknya 6,57 hari. Untuk Pertalite 17,55 hari. Kemudian untuk di Sabang, biosolar ketahanan stoknya 19,54 hari. Untuk Pertalite cukup panjang, ada 49 hari. Karena dia cuma di Kepulauan Jera,” jelas Sunardi.
Jadi, meski bencana menerpa, upaya menjaga pasokan energi dan bantuan langsung terus digelontorkan. Semua berharap, langkah-langkah ini bisa sedikit meringankan beban warga Aceh.
Artikel Terkait
BFIN Alokasikan Seluruh Saham Treasuri untuk Program MESOP Karyawan
CIMB Niaga Bagikan Dividen Tunai Rp4,07 Triliun pada Mei 2026
Pemegang Saham Setujui Stock Split 1:2 Saham ITSEC Asia
ITSEC Asia Dapat Restu Pemegang Saham untuk Stock Split 1:2