Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melipatgandakan kebutuhan pendanaan darurat untuk Lebanon di tengah konflik bersenjata antara Israel dan Hizbullah yang telah memasuki bulan keempat, seiring dengan memburuknya kondisi kemanusiaan di negara tersebut.
Dalam proposal terbaru yang dirilis pada Jumat (5/6), PBB menyatakan tengah mengupayakan tambahan dana sebesar 331,5 juta dolar AS, atau setara dengan sekitar Rp5,97 triliun. Angka ini melengkapi permintaan sebelumnya yang diajukan pada Maret lalu, yakni sebesar 308 juta dolar AS (sekitar Rp5,54 triliun) untuk mendukung respons tanggap darurat besar-besaran yang dipimpin pemerintah Lebanon hingga akhir Mei.
Hingga 31 Mei, PBB mencatat baru menerima 185,9 juta dolar AS (sekitar Rp3,35 triliun) dari total permintaan awal. Dana tersebut telah digunakan untuk menyalurkan bantuan kepada 680.000 orang. Kini, dengan penggandaan nominal bantuan menjadi 639,9 juta dolar AS (sekitar Rp11,52 triliun), PBB menargetkan bantuan dapat menjangkau seluruh perkiraan 1,4 juta penduduk Lebanon yang membutuhkan.
“Krisis kemanusiaan di Lebanon sangat parah dan terus memburuk,” demikian pernyataan Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA). Lembaga itu menambahkan bahwa pengungsian yang berulang, kapasitas tempat penampungan yang tidak memadai, serta terbatasnya peluang untuk kembali dengan aman, semakin memperparah kerentanan masyarakat.
OCHA juga memperingatkan bahwa masyarakat yang terdampak kian kehabisan kemampuan untuk bertahan, sementara berbagai layanan esensial semakin tertekan. Harga air, bahan bakar, dan listrik secara nasional telah naik lebih dari sepertiga. Di wilayah yang terdampak langsung konflik, kenaikannya bahkan mencapai 70 persen.
Di sektor kesehatan, OCHA mencatat 62 rumah sakit dan fasilitas kesehatan rusak atau terpaksa ditutup akibat konflik. Sementara itu, 450 sekolah kini difungsikan sebagai tempat penampungan pengungsi. Kondisi ini dinilai berpotensi memicu hilangnya kesempatan belajar bagi anak-anak serta meningkatkan risiko putus sekolah.
Serangan militer Israel ke Lebanon masih berlanjut. Kantor berita pemerintah Lebanon melaporkan bahwa pada Jumat (5/6) Israel kembali membombardir wilayah Lebanon selatan, yang menewaskan enam orang. Serangan itu terjadi sehari setelah Hizbullah, kelompok militan dukungan Iran, menolak perjanjian gencatan senjata terbaru yang ditengahi Amerika Serikat antara Israel dan pemerintah Lebanon.
Di sisi lain, Program Pangan Dunia (WFP) PBB memperingatkan bahwa kenaikan biaya bahan bakar akibat perang Iran mengakibatkan jutaan orang terancam kelaparan. WFP menyebut keluarga-keluarga di Afganistan, Somalia, dan Sri Lanka termasuk di antara yang paling terdampak.
Lebanon terseret ke dalam perang Timur Tengah pada awal Maret ketika Hizbullah menembakkan roket ke Israel. Serangan itu merupakan balasan atas serangan AS-Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran. Israel kemudian membalas dengan mengerahkan pasukan ke Lebanon dan melancarkan serangan besar-besaran.
Otoritas Lebanon melaporkan lebih dari 3.500 orang tewas akibat serangan Israel sejak awal Maret, dan hampir satu juta orang terpaksa mengungsi. Di pihak Israel, klaim resmi menyebutkan 26 tentara dan empat warga sipil tewas dalam serangkaian serangan Hizbullah pada periode yang sama.
Artikel Terkait
BNN Bekuk Dua Warga Rusia di Bali, Koper Berisi Narkotika Dibongkar di Bangli
Ombudsman Pantau Tindak Lanjut Rekomendasi di Sekolah Rakyat Bandung, Soroti Tata Kelola dan Rekrutmen Guru
Menteri LH: 74 Persen dari 51 Juta Ton Sampah Nasional Tak Terkelola, TPA Alami Darurat
Menkeu Pastikan Koordinasi dengan Bank Sentral Diperkuat Demi Stabilitas Rupiah dan Harga Pangan