Kalau dilihat dari latar belakang pekerjaan, profil penerima FLPP cukup beragam. Namun, pekerja swasta masih menduduki puncak dengan jumlah 205.330 orang atau 73,63 persen. Posisi berikutnya diisi oleh wiraswasta (39.218 orang) dan PNS (20.826 orang).
Nah, kalau dirinci lagi per profesi, buruh menjadi kelompok terbesar dengan 44.077 unit. Nilai pembiayaan untuk kelompok ini mencapai Rp 5,44 triliun. Di belakangnya, ada beragam profesi seperti guru, perawat, petani, hingga wartawan dan pengemudi ojek online.
Penyaluran program ini didukung oleh 42 bank. BTN masih menjadi penyalur utama dengan kontribusi hampir 48 persen dari total realisasi. Beberapa bank lain yang juga berperan besar antara lain BRI, BNI, Bank Mandiri, dan Bank Syariah Indonesia.
Secara geografis, Jawa Barat masih unggul dengan realisasi 62.591 unit. Disusul oleh Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Banten. Daerah di luar Jawa seperti Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan juga menunjukkan angka yang cukup menggembirakan.
Lantas, bagaimana prospek ke depannya? Untuk tahun 2026, target minimalnya sama: 350.000 unit. Heru pun mengajak semua pihak untuk bersinergi mencapainya.
“Pada tahun 2026, minimal kami diberi target untuk mencapai 350.000 unit [FLPP]. Maka kepada seluruh rekan-rekan asosiasi, mari terus semangat untuk berkompetisi dan memberikan yang terbaik,” pungkasnya.
Tingginya antusiasme generasi muda ini, baginya, adalah sinyal positif. Ini bisa jadi modal besar untuk mengembangkan pasar perumahan subsidi di masa datang. Harapannya, program ini tak hanya tentang angka, tapi juga tentang membangun fondasi kehidupan yang lebih baik untuk lebih banyak keluarga.
Artikel Terkait
Geliat BUMN Tekstil Pacu Saham Emiten Melambung 35%
Saham Penunggak Pajak Bisa Disita dan Dilelang Pemerintah
Rosan Roeslani Buka Suara: BUMN Tekstil Baru Bakal Telan Investasi Rp 101 Triliun
ICP Desember 2025 Anjlok ke USD61,10, Pasar Dihantui Super Glut