Laurencius memaparkan, dengan asumsi harga saham terkini dan proyeksi laba 2025, yield dividen BMRI terpantau sangat kompetitif. Apalagi jika payout ratio-nya berada di kisaran 60-80%.
“Kalau payout ratio 60-80 persen, itu yield-nya cukup tinggi. Bisa 8-9 persen, bahkan menyentuh 10-11 persen. Ini jelas di atas bunga deposito berjangka,”
katanya. Angka high single digit hingga low double digit itu tentu saja jadi magnet tersendiri.
Momentumnya pun dinilai tepat. Menurut Laurencius, valuasi saham BMRI saat ini terpantau relatif murah. Ia membandingkannya dengan data historis dan para kompetitor di sektor yang sama.
“Secara Price to Book Value (PBV), kita sekarang berada di bawah rata-rata historis 10 tahun. Asing yang tadinya kepemilikannya hampir 80 persen sekarang turun ke 60 persen, biasanya di posisi ini asing akan mulai masuk kembali,”
tuturnya. Jadi, ini bisa jadi saat yang bagus untuk mempertimbangkan masuk, sebelum yang lain ramai-ramai kembali.
Pada akhirnya, keputusan dividen besar ini bukan cuma soal uang tunai yang dibagikan. Ia bercerita tentang kesehatan bank, strategi menjaga investor, dan sinyal optimisme di tengah pasar yang masih mencari kepastian. Sebuah langkah yang bicara banyak.
Artikel Terkait
BELL Melonjak 34%, Siapa Dalang di Balik Emiten Tekstil Lawas Ini?
Konsumsi Masyarakat Menguat, Inflasi Tetap Terjaga Jelang Pergantian Tahun
Utang Luar Negeri RI Menyusut, BI: Setiap Dolar Harus Bekerja untuk Pembangunan
Dana IPO MAXI Hampir Habis, Tinggal Rp541 Juta Tersisa