Bank Mandiri Bagikan Dividen Rp9,3 Triliun, Sinyal Optimisme di Tengah Pasar Gamang

- Kamis, 15 Januari 2026 | 11:30 WIB
Bank Mandiri Bagikan Dividen Rp9,3 Triliun, Sinyal Optimisme di Tengah Pasar Gamang

Rabu lalu, tepatnya 14 Januari 2026, Bank Mandiri (BMRI) mengambil langkah yang cukup menggembirakan bagi para pemegang sahamnya. Mereka resmi membagikan dividen interim untuk tahun buku 2025, dengan nilai fantastis mencapai Rp9,3 triliun. Kalau dihitung per saham, angkanya sekitar Rp100. Ini bukan angka main-main.

Namun begitu, bagi kalangan analis, langkah ini jauh lebih dari sekadar bagi-bagi keuntungan rutin. Ini dilihat sebagai sinyal. Sinyal kepercayaan diri manajemen terhadap kondisi internal bank, meski situasi global masih terasa gamang. Fundamental perusahaan dinilai kuat, dan pembagian dividen ini seolah menjadi buktinya.

Laurencius Teiseran, Head of Investor Relations Bank Mandiri, punya penjelasan menarik soal kebijakan bagi hasil dua kali setahun ini.

“Banyak bank besar internasional, terutama di AS, membayar dividen dua hingga empat kali setahun. Ini bentuk apresiasi kepada investor sekaligus insentif agar mereka stay for longer,”

Ujarnya dalam podcast The Fundamentals IDX Channel, Kamis (15/1/2026). Jadi, ini upaya mendekatkan diri pada praktik korporasi kelas dunia.

Dia kemudian membeberkan beberapa angka kunci yang mendasari optimisme itu. Pertumbuhan kredit per November 2025 tercatat solid di level 13%, mengungguli rata-rata industri. Di sisi lain, rasio kecukupan modalnya juga perkasa, mendekati angka 20%. Fondasinya memang terlihat kokoh.

Lalu, bagaimana dengan daya tariknya bagi investor? Di sinilah jadi menarik.

Laurencius memaparkan, dengan asumsi harga saham terkini dan proyeksi laba 2025, yield dividen BMRI terpantau sangat kompetitif. Apalagi jika payout ratio-nya berada di kisaran 60-80%.

“Kalau payout ratio 60-80 persen, itu yield-nya cukup tinggi. Bisa 8-9 persen, bahkan menyentuh 10-11 persen. Ini jelas di atas bunga deposito berjangka,”

katanya. Angka high single digit hingga low double digit itu tentu saja jadi magnet tersendiri.

Momentumnya pun dinilai tepat. Menurut Laurencius, valuasi saham BMRI saat ini terpantau relatif murah. Ia membandingkannya dengan data historis dan para kompetitor di sektor yang sama.

“Secara Price to Book Value (PBV), kita sekarang berada di bawah rata-rata historis 10 tahun. Asing yang tadinya kepemilikannya hampir 80 persen sekarang turun ke 60 persen, biasanya di posisi ini asing akan mulai masuk kembali,”

tuturnya. Jadi, ini bisa jadi saat yang bagus untuk mempertimbangkan masuk, sebelum yang lain ramai-ramai kembali.

Pada akhirnya, keputusan dividen besar ini bukan cuma soal uang tunai yang dibagikan. Ia bercerita tentang kesehatan bank, strategi menjaga investor, dan sinyal optimisme di tengah pasar yang masih mencari kepastian. Sebuah langkah yang bicara banyak.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar