Rabu lalu, tepatnya 14 Januari 2026, Bank Mandiri (BMRI) mengambil langkah yang cukup menggembirakan bagi para pemegang sahamnya. Mereka resmi membagikan dividen interim untuk tahun buku 2025, dengan nilai fantastis mencapai Rp9,3 triliun. Kalau dihitung per saham, angkanya sekitar Rp100. Ini bukan angka main-main.
Namun begitu, bagi kalangan analis, langkah ini jauh lebih dari sekadar bagi-bagi keuntungan rutin. Ini dilihat sebagai sinyal. Sinyal kepercayaan diri manajemen terhadap kondisi internal bank, meski situasi global masih terasa gamang. Fundamental perusahaan dinilai kuat, dan pembagian dividen ini seolah menjadi buktinya.
Laurencius Teiseran, Head of Investor Relations Bank Mandiri, punya penjelasan menarik soal kebijakan bagi hasil dua kali setahun ini.
“Banyak bank besar internasional, terutama di AS, membayar dividen dua hingga empat kali setahun. Ini bentuk apresiasi kepada investor sekaligus insentif agar mereka stay for longer,”
Ujarnya dalam podcast The Fundamentals IDX Channel, Kamis (15/1/2026). Jadi, ini upaya mendekatkan diri pada praktik korporasi kelas dunia.
Dia kemudian membeberkan beberapa angka kunci yang mendasari optimisme itu. Pertumbuhan kredit per November 2025 tercatat solid di level 13%, mengungguli rata-rata industri. Di sisi lain, rasio kecukupan modalnya juga perkasa, mendekati angka 20%. Fondasinya memang terlihat kokoh.
Lalu, bagaimana dengan daya tariknya bagi investor? Di sinilah jadi menarik.
Artikel Terkait
Laba Bersih Astra 2025 Turun Tipis 3%, Jasa Keuangan Jadi Penyelamat
Program Pondasi Perbaiki Ratusan Rumah Warga di Kalimantan Tengah
Laba Bersih ITMG Anjlok 49% di Tengah Pelemahan Harga Batu Bara
Harga Emas Antam Stagnan di Rp 3,085 Juta per Gram Awal Maret