Surplus Dagang China Tembus USD 1,2 Triliun Meski Dihantam Perang Tarif

- Kamis, 15 Januari 2026 | 03:18 WIB
Surplus Dagang China Tembus USD 1,2 Triliun Meski Dihantam Perang Tarif

Di tengah riuh perang dagang, kinerja perdagangan China di tahun 2025 ternyata masih menunjukkan kekuatan yang solid. Padahal, negeri itu harus menghadapi tarif impor yang digenjot oleh pemerintahan Donald Trump di AS. Tapi faktanya, surplus neraca perdagangan mereka malah membengkak hingga USD 1,2 triliun. Angka yang fantastis.

Dampak perang dagang itu sendiri memang nyata. Menurut laporan AFP, ekspor China ke pasar Amerika Serikat anjlok 20 persen tahun lalu. Impor dari sana juga ikut merosot, sekitar 14,6 persen. Pukulan yang cukup telak.

Namun begitu, rupanya China punya penopang lain. Mitra dagang di kawasan lain justru menopang pertumbuhan. Ekspor ke negara-negara ASEAN, misalnya, melesat 13,4 persen. Lebih menggembirakan lagi, pengiriman ke Afrika bahkan meroket 25,8 persen. Sementara ke Uni Eropa, ekspor tetap naik 8,4 persen meski impor dari blok tersebut berkurang.

Di sisi lain, ada secercah angin segar dari hubungan dengan Eropa. Ketegangan yang sempat memanas menunjukkan tanda-tanda mereda awal pekan ini. Brussel menyatakan produsen kendaraan listrik asal China bisa menawarkan komitmen harga semacam penetapan harga minimum sebagai pengganti tarif yang sebelumnya diancam. Langkah ini bisa meredakan ketegangan.

Wakil Menteri Bea Cukai China, Wang Jun, dengan bangga memaparkan capaian itu dalam sebuah konferensi pers di Beijing, Rabu (14/1).

"Perdagangan Tiongkok pada tahun 2025 melampaui 45 triliun yuan, atau setara USD 6,4 triliun, untuk pertama kalinya. Ini adalah rekor tertinggi baru," ujarnya, seperti dikutip AFP.

Namun, di balik optimisme itu, ada nada prihatin. Wang Jun tampaknya menyindir kebijakan sejumlah negara, khususnya AS.

"Perlu dicatat bahwa beberapa negara mempolitisasi isu ekonomi dan perdagangan, membatasi ekspor produk teknologi tinggi ke China dengan berbagai dalih," tambahnya.

Data terakhir di Desember pun cukup menggembirakan: ekspor tumbuh 6,6 persen dan impor melonjak 5,7 persen secara tahunan. Tren kuat yang menutup tahun dengan baik.

Lantas, apakah momentum ini akan bertahan? Zichun Huang, ekonom dari Capital Economics, memperkirakan iya.

"Kami memperkirakan ketahanan ini akan berlanjut hingga tahun 2026," katanya.

Tapi dia juga mengingatkan, ancaman masih membayang. Gencatan senjata dagang dengan AS dinilainya rentan.

"Salah satu risikonya adalah gencatan senjata dengan AS mungkin tidak bertahan lama. Ancaman Trump untuk mengenakan tarif 25 persen pada negara yang berbisnis dengan Iran, misalnya, menunjukkan betapa ketegangan perdagangan bisa muncul kembali kapan saja," jelas Huang.

Memang, Gedung Putih dan Beijing sempat berseteru soal warisan tarif Trump itu. Tapi pada musim semi lalu, kedua raksasa itu akhirnya sepakat pada gencatan senjata yang lebih luas. Sebuah jeda, yang meski rapuh, memberi napas bagi perdagangan global. Sekarang, semua pihak menunggu, apakah jeda ini akan bertahan atau justru menjadi awal dari babak ketegangan berikutnya.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar