Dolar AS kembali menunjukkan taringnya di pasar Asia, Rabu pagi. Mata uang itu melesat mendekati level tertinggi dalam sebulan terakhir. Pemicunya? Data inflasi AS yang baru dirilis ternyata sesuai dengan perkiraan kebanyakan analis.
Angka-angka itu, singkatnya, memberi amunisi bagi Federal Reserve untuk bertahan. Bank sentral AS kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga acuan dalam pertemuan akhir Januari nanti. Hal ini terjadi meski ada desakan dari Gedung Putih yang ditujukan langsung ke Jerome Powell, sang ketua The Fed.
Indeks dolar langsung merespons, naik 0,3 persen ke posisi 99,18. Kenaikan ini seperti usaha untuk menutupi kerugian sehari sebelumnya. Waktu itu, pasar sempat gempar setelah Presiden Donald Trump mengancam akan menuntut Powell secara pidana. Ancaman itu langsung dibalas dengan gelombang dukungan untuk Powell dari para bankir sentral global dan CEO bank-bank besar Wall Street.
“Kalau intervensi semacam itu sampai terjadi, risikonya besar. Bisa-bisa inflasi makin menggila, biaya utang pemerintah membengkak, dan kegiatan ekonomi jadi lebih bergejolak,”
kata Brian Martin, Kepala Ekonomi G3 di ANZ London, menyoroti situasi yang berpotensi kacau.
Data inflasi yang jadi biang keributan ini menunjukkan kenaikan harga konsumen AS sebesar 0,3 persen pada Desember. Penyumbang utamanya adalah sewa rumah dan harga makanan. Kenaikan ini juga menandai berakhirnya efek penurunan artifisial di bulan November, yang waktu itu dipicu oleh penutupan pemerintahan.
Nah, dengan data segar ini, pasar kini hampir yakin betul The Fed akan berdiam diri. Probabilitasnya mencapai 95,6 persen bahwa suku bunga tak akan berubah dalam rapat dua hari yang berakhir 28 Januari. Angka itu tak bergeser dari hari sebelumnya.
Di sisi lain, suasana pasar Asia pagi ini terbilang cukup tenang. Volatilitas kebanyakan pasangan mata uang masih rendah. Trader tampaknya menunggu keputusan penting dari Mahkamah Agung AS soal legalitas tarif darurat yang dulu diterapkan Trump.
Pergerakan mata uang utama pun beragam. Dolar AS nyaris tak bergerak terhadap yen Jepang, bertahan di 159,025 yen. Begitu pula terhadap yuan China di pasar Hong Kong, stagnan di 6,9708. Pasar juga sedang menanti data perdagangan China untuk Desember yang akan dirilis sebentar lagi.
Dolar Australia sedikit bernafas lega, naik 0,1 persen ke USD0,6688. Dolar Selandia Baru juga menguat tipis dengan persentase yang sama, ke USD0,5740. Sementara itu, euro dan poundsterling seperti kehabisan tenaga, masing-masing diam di USD1,1642 dan USD1,3423.
Artikel Terkait
Pemerintah dan Rusia Bahas Rencana Pembangunan Gudang Penyimpanan Minyak di Sumatera
Matahari Department Store Bagikan Dividen Rp556 Miliar, Yield Capai 13%
Kawasan Golf Bandar Kemayoran Berbenah Jadi Kemayoran Indah Golf
PTPP Rampungkan Struktur Utama Gedung RS Jantung Internasional Harapan Kita