Harga minyak mentah kembali menunjukkan gejolak yang signifikan. Pada Selasa (13/1) kemarin, sentimen pasar mendorong kenaikan lebih dari 2 persen. Kekhawatiran akan gangguan ekspor dari Iran rupanya menjadi pendorong utama, cukup kuat untuk mengimbangi kabar soal potensi tambahan pasokan dari Venezuela.
Mengutip data dari Reuters, minyak mentah Brent berjangka berhasil naik USD 1,60 atau setara 2,5 persen. Posisi penutupannya berada di angka USD 65,47 per barel. Sementara itu, patokan AS, West Texas Intermediate (WTI), juga ikut meroket. WTI menguat USD 1,65 (sekitar 2,8 persen) dan ditutup pada level USD 61,15 per barel.
Batu Bara
Di sisi lain, pergerakan batu bara terbilang lebih kalem. Pada hari yang sama, komoditas ini hanya mencetak kenaikan tipis sebesar 0,51 persen. Akhir sesi perdagangan, harganya bertengger di USD 107,65 per ton.
CPO
Berbeda dengan minyak mentah, harga minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) justru melemah. Catatan dari tradingeconomics menunjukkan penurunan sebesar 0,68 persen. CPO akhirnya ditutup pada MYR 4.063 untuk setiap tonnya.
Nikel
Nasib serupa dialami oleh nikel. Komoditas logam ini mengalami tekanan jual yang cukup dalam pada penutupan Selasa. Harganya anjlok cukup tajam, yakni 2,63 persen, hingga menyentuh level USD 17.600 per ton.
Timah
Sementara itu, timah justru menjadi bintang dengan kinerja paling cemerlang hari itu. Di tengah pelemahan beberapa komoditas lain, harga timah malah melesat tinggi. Berdasarkan catatan London Metal Exchange (LME), terjadi kenaikan fantastis sebesar 3,25 persen. Alhasil, harga logam ini menetap di posisi USD 49.528 per ton.
Artikel Terkait
PT Brigit Biofarmaka Gelar RUPST 2026 di Solo, Bahas Laporan Keuangan dan Penggunaan Laba
Dominasi Saham Unggulan Warnai Peta Pasar Modal Indonesia pada Maret 2026
Dharma Polimetal Bagikan Dividen Rp326,3 Miliar, Naik 62,8% dari Tahun Lalu
IHSG Naik Tipis, Saham NIRO dan DEFI Melonjak di Atas 34%