Rupiah Tembus Rp18.000, Harga Produk Impor di Ritel Dipastikan Naik

- Kamis, 04 Juni 2026 | 15:50 WIB
Rupiah Tembus Rp18.000, Harga Produk Impor di Ritel Dipastikan Naik

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang telah menembus level Rp18.000 berpotensi mendorong kenaikan harga sejumlah produk ritel yang bergantung pada bahan baku impor. Kondisi ini menjadi kekhawatiran baru bagi pelaku usaha di tengah tekanan ekonomi global yang masih berlangsung.

Direktur Keuangan PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI), Suantopo Po, mengungkapkan bahwa berbagai produk yang menggunakan komponen atau bahan baku impor akan menghadapi tekanan biaya yang signifikan. Dampaknya, harga jual di tingkat konsumen dipastikan akan mengalami penyesuaian.

"Ya, memang kita ketahui bahwa hari ini mungkin dolar itu sudah Rp18.000. Tentu saja banyak produknya yang menggunakan komponen impor, pasti akan mengalami kenaikan harga," ujarnya dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang digelar di Alfa Tower, Alam Sutera, Tangerang, Kamis (4/6/2026).

Suantopo mencontohkan sejumlah komoditas yang masih bergantung pada pasokan impor, seperti susu, kacang hijau, dan kedelai. Kenaikan biaya bahan baku tersebut, menurut dia, berpotensi memicu kenaikan harga produk jadi yang menggunakan bahan-bahan tersebut di pasaran.

Dia menegaskan bahwa penyesuaian harga akan mengikuti kebijakan pemasok atau prinsipal. Jika produsen menaikkan harga akibat membengkaknya biaya produksi, maka harga di tingkat ritel juga akan ikut disesuaikan.

"Pada prinsipnya, apabila dari prinsipal memang menaikkan harga, pasti otomatis kita akan menaikkan harga juga. Kita adalah retailer. Jadi, enggak mungkin tidak ada kenaikan harga," tuturnya.

Di sisi lain, Suantopo tetap optimistis terhadap prospek bisnis perseroan di tengah tekanan nilai tukar dan ketidakpastian ekonomi global. Menurutnya, sektor ritel kebutuhan sehari-hari merupakan industri yang bersifat defensif dan relatif mampu bertahan dalam berbagai kondisi ekonomi.

"Perseroan bergerak di bidang perdagangan ritel yang memang industri defensif dan kita sudah buktikan bahwa perseroan berhasil melalui masa pandemi Covid-19 pada 2020 dengan baik. Tujuh bulan ke depan, kita tetap yakin bahwa secara fundamental perseroan tetap cukup kuat dan tetap bisa tumbuh secara moderat dibandingkan tahun sebelumnya," kata dia.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags