ujarnya meyakinkan.
Di sisi lain, Indonesia punya modal alam yang tak kalah penting: pasir silika. Ini bahan baku utama untuk membuat chip. Dengan bahan baku di tangan, proses hilirisasi punya pondasi yang kuat untuk dijalankan.
"Jadi sesudah kita kuasai ekosistem perencanaan semikonduktor maka hilirisasi silicon itu bisa jalan. Karena dari silicon bisa lari ke floating glass. Floating glass menjadi solar panel. Solar panel bisa juga ke wafer. Wafer juga ujungnya sudah semikonduktor. Assembling, testing, packaging,"
jelas Airlangga, membeberkan mata rantai industrinya.
Pada akhirnya, Airlangga percaya bahwa industri semikonduktor ini bukan sekadar proyek biasa. Ini adalah salah satu jalan bagi suatu negara untuk melompat keluar dari jebakan status negara berpendapatan menengah. Buktinya sudah terlihat di beberapa tempat.
"Karena industri yang sifatnya inovatif. Inilah yang membedakan Jepang, Korea dan berbagai negara termasuk Malaysia yang mau duluan lepas dari middle income track larinya ke sana (semikonduktor),"
tutupnya. Ambisi itu jelas. Sekarang, tinggal eksekusinya.
Artikel Terkait
Salim Ivomas (SIMP) Catat Laba Bersih Rp2,07 Triliun, Tumbuh 33% di 2025
Proyek Giant Sea Wall Butuh Dana Hingga 100 Miliar Dolar AS
OJK Jatuhkan Denda Rp3,4 Miliar dan Bekukan Izin KGI Sekuritas Terkait IPO Bermasalah
Matahari Department Store Bagikan Dividen Rp564 Miliar Meski Laba Turun