Prediksi untuk Indeks Harga Saham Gabungan tahun ini tampak cerah. Penguatan diproyeksikan berlanjut, didorong oleh dua hal utama: sektor komoditas yang masih perkasa dan kondisi ekonomi domestik yang kian stabil.
Joanne Goh, Senior Investment Strategist Bank DBS, termasuk yang optimis. Ia menyebut Jakarta Composite Index atau IHSG masih punya peluang menguat sepanjang 2024 ini.
"Kami melihat JCI akan meningkat lebih tinggi tahun ini. Kami memiliki 9.800 sebagai target indeks untuk JCI,"
Ucap Joanne dalam sebuah konferensi pers, Senin lalu. Menurut analisanya, saham-saham komoditas masih jadi penopang utama pasar. Gejolak geopolitik global, ditambah persoalan pasokan dan keamanan, membuat harga komoditas cenderung terjaga. Situasi ini jelas menguntungkan Indonesia, mengingat kekayaan sumber daya alam kita yang melimpah.
Namun begitu, faktor pendorong tak cuma dari luar. DBS juga melihat konsumsi dalam negeri sebagai penggerak penting berikutnya. Ruang fiskal pemerintah dinilai masih cukup lebar untuk mendongkrak belanja masyarakat, yang ujung-ujungnya berdampak positif pada performa bursa.
Lalu, sektor mana yang paling diuntungkan? Tiga kandidat utamanya adalah perbankan, telekomunikasi, dan tentu saja sektor konsumsi. Ketiganya berkaitan erat dengan denyut nadi ekonomi sehari-hari.
Di sisi lain, stabilitas ekonomi Indonesia tahun ini dinilai lebih baik ketimbang tahun lalu. Stabilitas macam ini biasanya memberi rasa nyaman bagi investor, baik lokal maupun asing, untuk menanamkan modalnya di pasar keuangan kita.
Optimisme serupa sebenarnya juga datang dari internal pemerintah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya sudah menyampaikan keyakinannya bahwa IHSG akan melanjutkan tren penguatan. Bahkan, ia menyebut level psikologis 10.000 berpotensi ditembus pada 2026.
Keyakinannya itu berdasar pada koordinasi kebijakan ekonomi yang dinilai makin sinkron, plus fundamental ekonomi nasional yang semakin solid.
Purbaya sempat berkomentar, seharusnya kinerja pasar saham kita saat ini bisa lebih tinggi. Menurutnya, kalau desain kebijakan sebelumnya berjalan sesuai rencana, posisi IHSG mungkin sudah menyentuh 9.000.
"Oh iya lah (to the moon di 2026). Harusnya kalau kemarin desainnya sesuai dengan desain saya, sekarang sudah 9.000. Tapi kan sudah itu sedikit, ke depan dengan kebijakan semakin sinkron dan ekonominya semakin bagus, harusnya IHSG akan naik lebih cepat,"
Demikian penuturannya dalam sebuah Media Briefing, Rabu pekan lalu. Tampaknya, baik dari sisi analis pasar maupun pemerintah, angin memang bertiup positif untuk IHSG. Tinggal tunggu realisasinya di lapangan.
Artikel Terkait
PT Brigit Biofarmaka Gelar RUPST 2026 di Solo, Bahas Laporan Keuangan dan Penggunaan Laba
Dominasi Saham Unggulan Warnai Peta Pasar Modal Indonesia pada Maret 2026
Dharma Polimetal Bagikan Dividen Rp326,3 Miliar, Naik 62,8% dari Tahun Lalu
IHSG Naik Tipis, Saham NIRO dan DEFI Melonjak di Atas 34%