Dunia perdagangan internasional saat ini memang sedang tak karuan. Gejolak politik di berbagai belahan dunia, ditambah dengan kebijakan negara-negara yang berubah-ubah, bikin situasi makin sulit ditebak. Itu baru tantangan pertama. Lalu, ada soal rantai pasok global yang kini cenderung terdiversifikasi tidak lagi bergantung pada satu atau dua wilayah saja. Di tengah semua itu, justru negara-negara berkembang muncul sebagai pasar pertumbuhan baru yang menjanjikan.
Begitulah kira-kira gambaran besar yang diungkapkan Herry Hykmanto, Chairman ICC Banking Commission Indonesia. Ia menyampaikan hal tersebut dalam LPEI Export Forum 2025 di Jakarta, yang dihadiri puluhan perwakilan bank nasional dan asing.
Menurut Herry, dalam dinamika yang serba tak pasti ini, pelaku usaha dan perbankan dituntut jeli mengelola risiko. Apalagi ketika berurusan dengan mitra baru atau membuka pasar yang tingkat risikonya lebih tinggi. “Penjaminan dan asuransi memungkinkan pelaku usaha memasuki pasar baru, mengikuti tender internasional, dan mengurangi risiko pembayaran,”
ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima Senin (12/1).
Nah, soal instrumen mitigasi, produk seperti guarantee atau asuransi ekspor bisa jadi pilihan krusial. Fungsinya tak cuma melindungi, tapi juga mendukung ekspansi pasar dan ketahanan bisnis eksportir dalam jangka panjang.
Lanskap Baru Cara Bayar
Di sisi lain, ada perubahan signifikan dalam metode pembayaran internasional. Suharyanto, Executive Vice President Indonesia Eximbank, mengamati pergeseran dari yang awalnya didominasi Letter of Credit (LC) ke metode non-LC. Tren ini, katanya, didorong pesatnya perkembangan teknologi digital.
“Saat ini perdagangan internasional juga tengah masuk ke dalam era digitalisasi, dimana cara penagihan secara konvensional (fisik) melalui kurir, mulai ditinggalkan dan diganti dengan penagihan secara digital,”
Artikel Terkait
Pasar Saham AS Terguncang: Ancaman Hukum ke The Fed Picu Awal Pekan Suram
Prabowo Santai Soal Tenggat, Fokus Genjot Eksplorasi Energi
Merdeka Battery Gelontorkan Rp44,37 Miliar untuk Gali Potensi Nikel Konawe
Prabowo Pacu 11 Proyek Hilirisasi Senilai Rp 101 Triliun