Panggilan telepon itu meraung di tengah heningnya subuh, sekitar pukul lima lebih dua puluh. Di seberang garis, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mendengar laporan yang membuatnya langsung siaga. Telepon subuh itulah yang kemudian memicu penggagalan penyelundupan besar-besaran: 133,5 ton bawang bombay ilegal di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang.
Semua berawal dari kanal "Lapor Pak Amran". Laporan itu masuk di hari libur, tapi disebut sangat mendesak. Katanya, barang sudah dalam perjalanan ke Semarang. Meski sempat ragu "jangan-jangan main-main" Amran memutuskan untuk bertindak cepat. "Kalau salah, alhamdulillah. Tapi kalau benar, seperti sekarang, dampaknya besar," ujarnya.
Begitulah. Ia tak mau ambil risiko.
Dari rumah, sejak dini hari, ia langsung menggerakkan jaringan. Koordinasi berjalan cepat. Telepon ke Dandim, ke Kapolres, ke jajaran terkait. Semua diminta memperketat pengawasan. Bagi Amran, kolaborasi adalah kunci mutlak dalam hal seperti ini.
"Kami tidak bisa kerja sendiri. Begitu ada laporan, langsung saya telepon semua. Kolaborasi itu kunci," tegasnya saat sidak di Semarang, Sabtu (10/1/2026).
Dan upaya itu tak sia-sia. Hanya dalam enam jam setelah koordinasi, kabar baik datang. Aparat gabungan berhasil mencegat tujuh truk bermuatan bawang bombay ilegal. Barang bukti seberat 133,5 ton itu diamankan. Menurut laporan Polrestabes Semarang, penindakan terjadi Jumat, 2 Januari 2026, sekitar pukul sebelas siang.
Artikel Terkait
Harga Minyak Diprediksi Tertekan hingga 2026, Baru Pulih Setelahnya
Pasar Tenaga Kerja AS Mandek, Tapi Tingkat Pengangguran Justru Menyusut
Beras untuk Rakyat 2026 Dijamin Aman, Stok Bulog Capai 3,2 Juta Ton
Iran di Ambang Perubahan: Krisis Ekonomi dan Gejolak Sosial Menggerus Fondasi Republik Islam