Lalu, peran Pertamina seperti apa? Perusahaan energi plat merah ini akan bertindak sebagai offtaker sekaligus agregator infrastruktur distribusi. Jaringan distribusi Pertamina yang luas diharapkan bisa menyalurkan produk hasil hilirisasi seperti DME dan SNG ke masyarakat dan industri dengan efektif. Harapannya, produk ini bisa jadi substitusi yang andal untuk energi impor.
Simon Aloysius Mantiri, Dirut Pertamina, melihat ini sebagai langkah konkret. “Ini adalah langkah nyata kami dalam mengurangi ketergantungan pada impor LPG dan memastikan energi yang lebih terjangkau tersedia bagi rakyat, sejalan dengan target swasembada energi pemerintah,” katanya.
Pernyataan Simon itu punya alasan yang kuat. Data dari Kementerian ESDM cukup mencengangkan: konsumsi LPG nasional diproyeksikan melonjak hingga 10 juta metrik ton pada 2026. Sementara itu, produksi dalam negeri kita hanya mampu menyentuh angka 1,3 hingga 1,4 juta metrik ton. Jaraknya sangat jauh.
Nah, di sinilah sinergi antara MIND ID dan Pertamina menemukan momentumnya. Melalui teknologi Coal to DME dan Coal to SNG, defisit LPG yang besar itu berpeluang ditutup dengan memanfaatkan sumber daya domestik. Jika berjalan mulus, ini bukan cuma soal menutupi kekurangan, tapi lebih pada upaya memperkuat kemandirian energi kita ke depannya.
Artikel Terkait
Avian Brands Bagikan Dividen Final Rp709 Miliar, Total 2026 Capai Rp1,36 Triliun
Analis Soroti Anomali: Kinerja BCA Gemilang, Harga Saham Justru Anjlok
ARNA Bagikan Dividen Rp330 Miliar, Setara Rp45 per Saham untuk Tahun Buku 2025
BEI Resmi Delisting Saham Sritex Mulai 2026, Lo Kheng Hong Tercatat Sebagai Pemegang Saham