Pemerintah punya target ambisius tahun ini: mulai ekspor beras. Buat mewujudkannya, Perum Bulog sudah menyiapkan langkah konkret. Mereka mengalokasikan satu juta ton beras premium khusus untuk dikirim ke luar negeri.
Lantas, dari mana stok sebanyak itu diambil? Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menjelaskan bahwa alokasi tersebut berasal dari total stok mereka yang kini mencapai 3,25 juta ton. Meski begitu, dia meyakinkan bahwa cadangan di awal tahun tetap aman dan tak bakal terganggu.
“Kalau kita stok-kan 1 juta ton, masih sisa 2,5 juta ton. Jadi stok untuk Imlek terus kemudian masuk Ramadan, baru Lebaran, kami yakinkan aman dengan stok kalau kepotong nanti 1 juta ton untuk ekspor itu, masih sisa 2,25 juta ton. Aman,”
Ucap Rizal saat ditemui di sela-sela Rakernas Bulog 2025 di Jakarta Selatan, Minggu lalu.
Soal negara tujuan, rinciannya memang belum bisa dipastikan. Namun begitu, komunikasi untuk penjajakan dikatakan terus berjalan. Fokusnya, setidaknya untuk saat ini, adalah negara-negara tetangga di kawasan ASEAN.
“Setiap kami rapat dengan Atase Perdagangan dari seluruh Atase Perdagangan yang ada di ASEAN dulu. Alhamdulillah sudah ada komunikasi. Namun kami sudah mengantisipasi, Bulog sudah menyiapkan 1 juta sesuai dengan arahan Mentan,”
tambah Rizal.
Sekarang ini, Bulog masih menunggu respons dari masing-masing kedutaan. Harapannya, jawaban positif bisa datang dalam hitungan pekan atau bulan ke depan.
Optimisme ekspor ini sebenarnya sudah disuarakan sebelumnya oleh Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman. Dia yakin Indonesia bisa merealisasikan ekspor beras di tahun 2026, asalkan serapan Bulog bisa menyamai capaian tahun 2025.
“Aku tidak minta lebih, sama saja [serapan]. Hampir pasti kita lakukan ekspor tahun ini dan itu sejarah pertama Indonesia,”
kata Amran dalam acara Panen Raya di Karawang, Jawa Barat, Rabu (7/1) lalu, di hadapan Presiden Prabowo Subianto.
Dia punya dasar optimisme itu. Sepanjang 2025, produksi gabah setara beras Indonesia tercatat mencapai 34 juta ton. Bahkan, data BPS memproyeksikan angka tahun ini bisa naik jadi 34,77 juta ton, lebih tinggi dari perkiraan awal.
Tak cuma beras, Amran juga tampil percaya diri soal komoditas lain. Dia menyebut Indonesia kemungkinan besar tak perlu lagi impor gula kristal putih di tahun 2026. Proyek perkebunan tebu besar di Jawa Timur disebutnya akan mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri. Sebuah harapan baru untuk swasembada yang lebih lengkap.
Artikel Terkait
Metland Targetkan Marketing Sales Rp2 Triliun pada 2026
Hong Kong Salip Swiss sebagai Pusat Kekayaan Lintas Batas Terbesar Dunia
Metland Bagikan Dividen Rp74,2 Miliar dari Laba 2025, Setara Rp9,7 per Saham
PT Daaz Bara Lestari Nilai Kebijakan Ekspor Satu Pintu Tak Berdampak Material pada Kinerja