Dalam wawancara dengan Fox Business Network, Wright juga menyebut aktivitas Chevron di Venezuela diprediksi bakal meningkat pesat. Perusahaan raksasa lain seperti ConocoPhillips dan Exxon Mobil juga disebut menunjukkan minat untuk berperan lebih konstruktif.
Bahkan, kabarnya pemerintahan Trump mengundang pimpinan rumah dagang komoditas Vitol dan Trafigura ke Gedung Putih hari Jumat ini. Tujuannya? Untuk membahas pemasaran minyak Venezuela. Begitu menurut empat sumber yang diwawancarai Reuters.
Dari Asia, ada sinyal menarik juga. Reliance Industries India, operator kompleks kilang terbesar di dunia, menyatakan siap mempertimbangkan pembelian minyak Venezuela asalkan diizinkan dijual ke pembeli non-AS. Ini penting, mengingat Venezuela masih menyumbang sekitar 1 persen dari pasokan minyak global.
Rusia, Irak, dan Iran: Masalah dari Tempat Lain
Namun begitu, ancaman pasokan tidak cuma dari Venezuela. Kekhawatiran juga datang dari Rusia. Sebuah kapal tanker yang menuju ke sana dilaporkan diserang drone di Laut Hitam. Kapal itu minta bantuan Penjaga Pantai Turki dan terpaksa mengalihkan rute. Insiden ini dilaporkan oleh Lloyd’s List Intelligence dan sumber keamanan maritim.
Sementara di Ukraina, Presiden Volodymyr Zelensky menyebut rancangan jaminan keamanan bilateral dengan Washington pada dasarnya sudah siap difinalisasi. Di sisi lain, Senator Republik Lindsey Graham mengatakan Trump akan mengizinkan pembahasan RUU sanksi bipartisan yang menargetkan negara-negara yang masih berbisnis dengan Rusia produsen minyak terbesar kedua di dunia setelah AS sendiri.
Irak juga punya cerita. Kabinet mereka baru menyetujui rencana untuk menasionalisasi operasi ladang minyak West Qurna 2, salah satu yang terbesar di dunia. Langkah ini diambil untuk mencegah gangguan akibat sanksi AS terhadap pemegang saham Rusia di ladang itu, yaitu Lukoil.
Lalu ada Iran. Presiden baru mereka, Masoud Pezeshkian, memperingatkan pemasok domestik agar tidak menimbun atau menaikkan harga seenaknya. Peringatan ini muncul di tengah reformasi subsidi berisiko tinggi dan gelombang protes akibat kesulitan ekonomi yang belum juga reda.
Gelombang protes itu rupanya cukup serius. Kelompok pemantau internet NetBlocks melaporkan terjadi pemadaman internet nasional di Iran pada hari Kamis, bertepatan dengan aksi protes yang terus berlanjut.
Irak dan Iran, perlu diingat, adalah produsen minyak terbesar di OPEC setelah Arab Saudi. Gangguan dari salah satu saja dari mereka sudah cukup membuat pasar minyak dunia berdebar-debar. Apalagi jika ancaman datang dari beberapa front sekaligus, seperti yang terjadi pekan ini.
Artikel Terkait
Saham PP Properti Melonjak 10% Usai BEI Cabut Suspensi
BEI Bekukan Perdagangan Wanteg Sekuritas Terkait Kondisi Operasional
Setelah Mediasi DPR, Mie Sedaap Gresik Janji Hentikan PHK Massal Jelang Ramadan
Analis Sucor: Saham Unggulan Tertekan Jauh di Bawah Nilai Wajar