Mengakses layanan keuangan bisa jadi hal yang menakutkan bagi banyak ibu prasejahtera. Ada rasa sungkan, takut tak dipahami, atau sistem pinjaman yang terasa rumit dengan syarat jaminan. Tapi suasana hati itu sering berubah total begitu mereka bertemu dengan Account Officer (AO) PNM.
Pertemuan pertama biasanya sederhana saja. Di teras rumah, di balai warga, atau sudut perkampungan yang ramai. Yang datang bukan sosok kaku dengan bahasa bank. AO PNM lebih sering duduk mendengar, bicara dengan bahasa sehari-hari, mencoba memahami kebutuhan yang sering kali tak terucap. Dari situlah semuanya mulai. Mereka bisa dapat pembiayaan tanpa agunan, lalu didampingi pelan-pelan untuk naik kelas.
Hubungannya tidak berhenti di urusan pencairan dana. Menariknya, para AO ini lama-lama kenal nama anak-anak nasabah. Mereka paham ritme harian usaha ibu-ibu itu, tahu kapan harus memberi semangat atau sekadar jadi pendengar yang baik. Relasi semacam inilah yang lambat laun membangun rasa aman. Ada yang menemani dalam perjalanan usaha mereka, dalam suka dan duka.
Setiap kunjungan rutin, obrolan ringan, hingga solusi yang disampaikan dengan kata-kata sederhana semua itu mengumpulkan jadi satu: kepercayaan. Nasabah merasa didampingi dari dekat, bukan dilayani dari jauh.
Sekretaris Perusahaan PNM, L. Dodot Patria Ary, menegaskan bahwa pendekatan manusiawi ini adalah inti komitmen mereka.
Artikel Terkait
MNC Energy Klaim Operasional Tambangnya Kebal Aturan Daerah Berkat Jalan Khusus
Pemain Besar Beramai-ramai Jual, Saham Bakrie dan Salim Masih Panaskah?
600 Huntara Siap Huni di Aceh Tamiang, Dukung Pemulihan Pascabencana
MNC Energy Jual 3,38 Juta Ton Batu Bara, Realisasi Capai 80 Persen dari Target