Dengan kata lain, posisi saat ini dinilai lebih dari cukup. Ia bisa menopang transaksi internasional, menjaga kepercayaan para pelaku pasar, dan menjadi tameng untuk meredam potensi gejolak eksternal. Ini adalah fondasi utama stabilitas.
Ke depan, optimisme tetap dijaga. BI meyakini ketahanan eksternal Indonesia akan bertahan baik. Keyakinan ini bukan tanpa alasan. Selain didukung cadangan yang memadai, prospek aliran modal asing yang berkelanjutan juga masih cerah. Hal ini sejalan dengan persepsi investor yang masih melihat prospek ekonomi domestik dan imbal hasil investasi di Indonesia cukup menarik.
Namun begitu, BI tak mau berpuas diri. Untuk menjaga momentum positif ini, komitmen memperkuat koordinasi dengan pemerintah akan terus diintensifkan. Sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal dianggap sebagai kunci bukan hanya untuk menjaga stabilitas, tapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan ke depannya.
Denny menutup pernyataannya dengan penegasan soal komitmen tersebut.
Artikel Terkait
Pembangunan Pabrik Baru SCNP di Bogor Capai 70 Persen
IHSG Anjlok 1,44%, Saham MSKY dan JAYA Melonjak di Atas 34%
Rupiah Menguat ke Rp16.759 Didorong Harap Perundingan AS-Iran
Saham Jantra Grupo (KAQI) Melonjak 21,9%, Jadi Top Gainer Bursa