"Penurunan harga bukan karena permintaan turun, tapi karena pasokan meningkat," jelas De Haan lagi.
Kenaikan pasokan itu sebagian besar dipicu OPEC yang menaikkan produksi di 2025, didesak oleh tekanan dari Trump. Produksi minyak AS sendiri juga tetap kuat, meski kebijakan 'drill, baby, drill' belum juga bikin produksi meledak seperti yang dijanjikan.
Di akhir Desember lalu, produksi minyak AS tercatat 13,83 juta barel per hari hampir sentuh rekor tertinggi sepanjang masa. Tapi hati-hati, harga yang terlalu murah ini mulai bikin sejumlah perusahaan minyak lokal mengurangi kegiatan pengeboran. Akibatnya, produksi minyak AS di 2026 diperkirakan bakal turun sekitar 100 ribu barel per hari.
"Pengendara sebaiknya jangan terlalu berharap harga murah ini bertahan selamanya," kata De Haan memberi peringatan. "Produksi minyak AS bisa melemah dan memberi lebih banyak pangsa pasar ke OPEC."
Peluang Kenaikan Harga
Memang, prediksi ini nggak lepas dari risiko. Ketegangan di Venezuela bisa saja meluas dan memicu gejolak harga energi. Konflik Rusia-Ukraina juga belum berakhir, dengan serangan ke infrastruktur energi Rusia yang terus terjadi.
Belum lagi, Iran sudah memperingatkan kemungkinan serangan ke pasukan AS di Timur Tengah jika Washington ikut campur urusan dalam negeri mereka. Risiko lain ya kalau OPEC tiba-tiba berubah pikiran, memangkas produksi lagi supaya harga nggak terpuruk terlalu dalam.
Tapi untuk saat ini, setidaknya ada satu hal yang bisa diandalkan: harga bensin masih akan jadi pelipur lara di tengah tekanan hidup yang makin berat. Itu prediksinya.
Artikel Terkait
MNC Life dan BPD DIY Perkuat Proteksi Nasabah dengan Asuransi Jiwa Kredit Personal Loan
Prestasi Bersejarah di SEA Games 2025, Bonus Atlet Emas Tembus Rp1 Miliar
Menkeu Purbaya: Demutualisasi BEI Bukti Kepercayaan Investor, IHSG 10.000 Bukan Mimpi
Analis HSBC Proyeksikan Emas Tembus USD 5.000 pada Awal 2026