Sejak Kamis pagi, tepatnya tanggal 22 Januari, langit Jakarta seolah roboh. Hujan lebat mengguyur tanpa ampun di jam-jam padat orang berangkat kerja dan sekolah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) langsung menaikkan statusnya: level Awas. Artinya, intensitas hujan di Ibu Kota bukan main-main, masuk kategori sangat lebat hingga ekstrem.
Status waspada dan siaga yang sebelumnya hanya untuk sebagian wilayah, kini berlaku untuk seluruh DKI. Peringatan dini ini, kata BMKG, didasarkan pada akumulasi hujan harian tertinggi yang terpantau.
Prakiraan Masih Suram, Waspada Hingga Besok
Dan sayangnya, kondisi buruk ini diprakirakan berlanjut. Untuk Jumat, 23 Januari, prakiraan BMKG masih sama: level AWAS kembali menyelimuti Jakarta. Hujan dengan intensitas ekstrem berpotensi melanda seluruh kota administratif di DKI, plus wilayah tetangga seperti Kota dan Kabupaten Tangerang serta Tangerang Selatan di Banten.
Di sisi lain, kawasan penyangga seperti Bekasi, Bogor, dan Depok ‘hanya’ berstatus SIAGA. Meski begitu, artinya tetap serius: hujan lebat hingga sangat lebat masih mengancam.
Pernyataan Istana: Bukan Cuma Soal Hujan
Merespons banjir yang muncul, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi angkat bicara. Menurutnya, menyalahkan cuaca saja tidaklah cukup. Ada faktor lain yang berperan besar.
"Faktor cuaca, tingginya curah hujan di bulan basah akhir Januari ini memang cukup tinggi. Tetapi kita tentu menyadari bahwa ini tidak sekadar faktor cuaca. Bagaimana perubahan tata ruang juga di situ berpengaruh, bagaimana pendangkalan-pendangkalan aliran daerah-daerah aliran sungai itu juga berpengaruh,"
Prasetyo lalu mengungkap data yang memprihatinkan. Pada era 1970-an, kawasan Jabodetabek punya lebih dari seribu setu atau situ danau kecil yang berfungsi menyerap air. Kini?
"Data mengatakan bahwa wilayah Jabodetabek ini dulunya memiliki kurang lebih 1.000 situ atau danau atau telaga yang itu menjadi reservoir-reservoir daerah tangkapan air. Nah, menurut data terakhir, hari ini kurang lebih hanya tinggal tersisa 200 setu,"
Karenanya, Presiden Prabowo Subianto disebutkan ingin penanganan banjir dilakukan secara komprehensif, dari hulu sampai hilir.
Waspada, Cuaca Ekstrem Meluas
Ancaman cuaca ekstrem ternyata tak cuma berpusat di Jakarta. BMKG mengeluarkan imbauan luas. Masyarakat di sejumlah provinsi lain juga harus siaga.
Analisis terbaru menunjukkan, peningkatan intensitas hujan akan terjadi di wilayah selatan Indonesia. Mulai dari Sumatera bagian selatan, melintasi Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara. Puncaknya diperkirakan jelang akhir Januari ini.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani membeberkan, gangguan di atmosfer memicu pertumbuhan awan hujan secara signifikan. Ini berpotensi memicu banjir, longsor, dan gangguan transportasi.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun tetap meningkatkan kewaspadaan dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem menjelang akhir Januari ini,”
“Dinamika atmosfer saat ini memang menunjukkan adanya peningkatan pertumbuhan awan hujan di wilayah selatan Indonesia, namun dengan kesiapsiagaan yang baik dan terus memantau informasi resmi dari BMKG, kita dapat meminimalisir risiko bencana,”
Bibit Siklon dan Pengaruh Monsun Asia
Lalu, apa penyebab teknisnya? Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan ada beberapa faktor yang berhimpitan. Salah satunya adalah aktivitas bibit siklon tropis.
Belum lagi, Monsun Asia yang menguat hingga 23 Januari mendatang. Fenomena ini dibarengi seruakan udara dingin dari daratan Asia, yang meningkatkan kecepatan angin dan memicu pertumbuhan awan hujan secara masif di selatan khatulistiwa.
"Secara bersamaan, aktifnya Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Equator, dan Kelvin, yang didukung nilai OLR negatif, memperkuat pembentukan awan Cumulonimbus di atmosfer,"
Kondisi itu, ditambah kelembapan udara tinggi dan labilitas atmosfer yang kuat, menciptakan ‘resep sempurna’ untuk cuaca ekstrem skala lokal.
Daerah Mana Saja yang Terdampak?
Lalu, wilayah mana saja yang harus bersiap? Andri memaparkan, potensi hujan lebat disertai kilat dan angin kencang akan melanda sebagian besar wilayah Indonesia secara bergantian.
Pada 23 Januari, ancaman masih tinggi di DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, dan NTT. Esoknya, 24 Januari, fokus bergeser ke Jawa Tengah dan Timur.
Sedangkan untuk periode 25-26 Januari, Bali, NTB, dan NTT diprakirakan mengalami puncak curah hujan. Situasi ini jelas menuntut kewaspadaan ekstra dari semua pihak.
“Dinamika cuaca ini menuntut kewaspadaan tinggi dari masyarakat di provinsi-provinsi tersebut guna mengantisipasi dampak bencana hidrometeorologi yang mungkin timbul,” pungkas Andri.
Artikel Terkait
Alex Marquez Menang di MotoGP Spanyol 2026 Usai Marc Marquez Jatuh, Bezzecchi Kokoh di Puncak Klasemen
Lebih 800 Alumni Unair Reuni di Jakarta, Hadirkan PADI Reborn hingga Bincang Strategis
Psikolog Ungkap Bahaya Merasionalkan Pelecehan: Tubuh Beri Sinyal, Jangan Diabaikan
IHSG Ambruk 3,38% ke 7.129, Analis Sebut Masih Rawan Koreksi