Surplus Perdagangan November 2025 Menguat, Didorong Ekspor Nikel ke China

- Senin, 05 Januari 2026 | 04:12 WIB
Surplus Perdagangan November 2025 Menguat, Didorong Ekspor Nikel ke China

Josua juga memberikan catatan optimis terkait tekanan perang dagang yang mulai mereda. Sikap AS yang kini lebih terbuka terhadap negosiasi jadi angin segar. Ditambah lagi, jaringan perjanjian dagang Indonesia yang semakin luas dan integrasi ke rantai pasok global akan terus menopang ekspor, termasuk upaya mendapatkan akses bebas tarif ke AS untuk produk-produk unggulan kita.

“Kami memperkirakan neraca transaksi berjalan pada 2025 akan berkisar antara defisit sekitar 0,4 persen dari PDB dan surplus sekitar 0,2 persen dari PDB. Ini menyoroti ketahanan sektor eksternal Indonesia,” jelas dia.

“Pada 2026, neraca diperkirakan mencatat defisit ringan, tetap di bawah 1 persen PDB. Ini menunjukkan posisi eksternal yang stabil dengan tekanan terbatas pada cadangan devisa.”

Dari sisi stabilitas, cadangan devisa Indonesia diperkirakan berada di kisaran USD 148-153 miliar di akhir 2025. Nilai tukar rupiah diprediksi bergerak di rentang Rp 16.700 hingga Rp 16.800 per dolar AS. Tahun depan, cadangan devisa mungkin naik moderat ke USD 150-155 miliar, dengan rupiah berakhir di kisaran Rp 16.675–16.775.

Sementara itu, dari sisi harga, ada sedikit tekanan yang perlu diwaspadai. Indeks Harga Konsumen (IHK) diperkirakan naik cukup signifikan secara bulanan pada Desember 2025. Inflasi umum diproyeksikan melompat jadi 0,48 persen dari sebelumnya 0,17 persen di November. Pemicunya klasik: permintaan musiman yang menguat di akhir tahun.

“IHK diperkirakan akan mengalami kenaikan yang signifikan secara bulanan pada Desember 2025, sejalan dengan pola musiman permintaan yang lebih kuat pada akhir tahun,” ungkap Josua.

Inflasi inti dan komponen bergejolak juga ikut naik. Selain permintaan musiman, gangguan pasokan turut andil seperti dampak bencana alam di Aceh dan Sumatera, plus cuaca ekstrem di beberapa sentra pangan. Kabar baiknya, tekanan ini agaknya akan sedikit diredam oleh deflasi harga yang diatur pemerintah, berkat diskon tarif transportasi selama libur Nataru.

Pendapat senada datang dari Piter Abdullah, Direktur Eksekutif Segara Research Institute. Ia juga memproyeksikan surplus neraca perdagangan akan berlanjut, sementara inflasi akan naik sesuai siklus.

“Surplus neraca dagang didukung ekspor komoditi seperti CPO dan batu bara, serta produk manufaktur. Inflasi di bulan Desember diproyeksikan naik sesuai siklus,” tutur Piter.

Editor: Lia Putri


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar