Bantuan tak cuma soal pembiayaan. Kemenkop juga sudah menyalurkan beragam bantuan sosial langsung ke lokasi. Mulai dari kebutuhan paling mendasar seperti pembalut wanita, perlengkapan mandi, sampai toilet portabel. Juga ada penyuling air, mainan anak, paket makanan bayi, mushaf Al-Qur'an, hingga kain kafan.
Tak ketinggalan, donasi tunai sebesar Rp 1,86 miliar juga digelontorkan.
“Kami akan terus menambah anggaran untuk kegiatan Gerakan Koperasi Peduli ini,” imbuhnya, menegaskan bahwa bantuan ini akan berlanjut.
Rencana ke depan, Kemenkop akan membantu mendirikan posko-posko di beberapa daerah terdampak seperti Aceh Tamiang, Tapanuli Tengah, dan Agam. Posko ini nantinya bakal jadi pusat distribusi bantuan bagi korban. Lebih dari itu, posko juga akan menjadi tempat berkumpulnya berbagai pihak yang ingin membantu menghidupkan kembali usaha koperasi yang ada.
Ferry juga menyoroti satu hal krusial: data. Menurutnya, basis data yang presisi adalah kunci. Dengan data yang akurat, seluruh dukungan dan upaya pemulihan bisa lebih cepat dan tepat sasaran.
“Setelah masa darurat, kami memandang perlu untuk pendataan menjadi concern. Kalau tidak diselesaikan, akan bolak-balik mengulang kegiatan pendataan rekonsiliasi data,” tuturnya.
Jadi, selain bantuan langsung, penyelesaian masalah data ini jadi pekerjaan rumah penting agar pemulihan berjalan efektif dan tidak berulang.
Artikel Terkait
BEI Soroti Sembilan Emiten dengan Kepemilikan Saham Terlalu Terkonsentrasi
IHSG Bangkit Usai Gencatan Senjata, Analis Ingatkan Risiko Masih Membayangi
Gencatan Senjata AS-Iran Pacu Bursa Asia Menguat, Investor Tetap Waspada
IHSG Menguat Hampir 1 Persen di Awal Perdagangan Jumat