Harga minyak sawit mentah (CPO) ditutup melemah di hari Jumat, 2 Januari 2026. Ini sekaligus menjadi catatan pertama perdagangan di tahun baru. Pelemahan ini sepertinya tak lepas dari suasana hati pasar yang masih menunggu data produksi Desember, sambil mencermati laporan ekspor yang terlihat lesu.
Di bursa Malaysia, kontrak acuan CPO untuk pengiriman Maret anjlok 1,48 persen, berada di posisi 3.990 ringgit per metrik ton. Kalau dilihat pergerakan sepekan, pelemahannya bahkan lebih dalam, mencapai 2,37 persen.
Data ekspor dari Malaysia sendiri memang kurang menggembirakan. Menurut Intertek Testing Services, ekspor produk minyak sawit Malaysia sepanjang Desember turun 5,8 persen dibanding bulan sebelumnya, jadi cuma 1.240.587 ton. Angka dari AmSpec Agri Malaysia juga tak jauh beda, memperkirakan penurunan 5,2 persen menjadi 1,197.434 ton.
“Kondisi ekspor yang lesu ini jelas memberi tekanan,” kata seorang analis, meski dia enggan disebutkan namanya.
Di sisi lain, ada juga faktor yang sedikit menahan laju pelemahan. Permintaan dari India, importir terbesar dunia, menunjukkan tanda-tanda bangkit. Impor mereka naik tipis di November lalu, didorong oleh harga yang relatif lebih murah.
Artikel Terkait
BSA Logistics Resmi IPO, Kumpulkan Rp304 Miliar untuk Akuisisi
Presiden Prabowo Serukan Hemat Energi dan Transisi ke Listrik Meski SDA Melimpah
Komisaris Utama TOBA Bacelius Ruru Mundur untuk Regenerasi
MCOL Gelontorkan Rp265 Juta untuk Eksplorasi Batu Bara di Kuartal I-2026