Tak hanya itu, pemerintah Indonesia juga sudah menetapkan harga referensi CPO untuk Januari. Angkanya turun jadi USD915,64 per ton, dari sebelumnya USD926,14 per ton di Desember. Keputusan Kementerian Perdagangan ini turut mempengaruhi sentimen pasar.
Namun begitu, prospek jangka panjangnya tetap diwarnai tantangan. Sepanjang 2025 lalu, harga CPO terpangkas hampir 9 persen. Ini kontras banget dengan performa solid tahun sebelumnya. Tekanan datang dari mana-mana: harga minyak mentah dunia yang melemah, cuaca yang tak menentu, plus aturan keberlanjutan yang semakin ketat di sejumlah negara tujuan ekspor.
Menurut laporan Trading Economics, Malaysia berusaha mencari napas baru dengan mendiversifikasi pasar. Kawasan Afrika dan Timur Tengah kini jadi sasaran, terutama di tengah hubungan dagang yang rumit dengan Uni Eropa. Upaya ini diharap bisa jadi penyeimbang.
Jadi, awal 2026 ini pasar CPO masih diliputi kehati-hatian. Semua mata tertuju pada data produksi terbaru dan apakah permintaan dari negara-negara kunci benar-benar pulih.
Artikel Terkait
Airlangga Waspadai Dampak Ketegangan AS-Venezuela ke Perekonomian Indonesia
Prabowo Gelar Rapat Dadakan, Menteri Ekonomi Berdatangan ke Istana
ASDP Catat Lonjakan Penumpang dan Kendaraan Selama Libur Nataru
IHSG Melonjak 111 Poin, Sentimen Positif Warnai Perdagangan Saham