Wall Street bersiap menghadapi pekan yang penuh tantangan. Sentimen beragam, mulai dari laporan kuartalan Nvidia yang dinanti-nanti hingga gelombang dari putusan Mahkamah Agung soal tarif Trump, bakal menguji ketahanan pasar.
Putusan yang keluar Jumat lalu itu sempat memicu reli kecil di saham dan imbal hasil obligasi pemerintah. Tapi, euforianya terasa singkat. Di sisi lain, investor kini dibayangi ketidakpastian baru. Apa bentuk kebijakan perdagangan lain yang akan diusung Trump? Bagaimana proses pengembalian dana tarif yang dibatalkan itu akan berjalan? Pertanyaan-pertanyaan itu masih menggantung, menambah daftar kekhawatiran.
Fokus utama, tentu saja, ada pada Nvidia. Raksasa chip ini dijadikan barometer kesehatan sektor teknologi dan secara lebih luas, pasar saham secara keseluruhan. Laporannya yang dirilis Rabu nanti datang di saat yang tepat. Awal 2026 ini, sektor teknologi dan saham-saham megacap, yang dulu jadi mesin penggerak pasar, tampak kehilangan momentum.
Indeks S&P 500 memang masih bertahan di zona hijau tipis, dengan kenaikan 0,2 persen year-to-date. Tapi jangan tertipu. Di balik angka itu, gejolak terjadi. Saham-saham di sektor seperti perangkat lunak, manajemen kekayaan, dan real estate terpukul cukup berat. Penyebabnya? Kekhawatiran bahwa kehadiran AI justru bisa mengganggu model bisnis mereka yang sudah mapan.
Nvidia sendiri punya catatan fantastis. Sejak akhir 2022 hingga penutupan tahun lalu, sahamnya melesat lebih dari 1.500 persen. Namun tahun ini, performanya relatif datar, hanya naik sekitar 0,8 persen hingga Kamis lalu. Anggota lain dari "Magnificent Seven" bahkan lebih lemah. Microsoft terpangkas lebih dari 17 persen, sementara Amazon melemah 11 persen.
Artikel Terkait
BI Sebut Ruang Turunkan Suku Bunga Makin Sempit Imbas Gejolak Global
PT Asia Pramulia Beralih ke Impor Bahan Baku Akibat Konflik Timur Tengah
AISA Rencanakan Kuasi Reorganisasi untuk Hapus Akumulasi Kerugian Rp2,7 Triliun
Wall Street Melonjak Usai Gencatan Senjata AS-Iran-Israel, Harga Minyak Anjlok