Bulog Usul Satu Harga Beras Rp 11.000, Tapi Minta Fee Naik Dulu

- Sabtu, 03 Januari 2026 | 08:12 WIB
Bulog Usul Satu Harga Beras Rp 11.000, Tapi Minta Fee Naik Dulu

“Harapannya jelas, untuk memotong rantai distribusi yang terlalu panjang. Biar harga minyak bisa benar-benar flat, atau malah lebih rendah,” ujarnya dalam kesempatan yang sama.

Sementara itu, Direktur Pemasaran Bulog, Febby Novita, membeberkan rincian harganya. Bulog membeli dari produsen di harga Rp 13.500 per liter, lalu menjual ke pengecer seharga Rp 14.500.

“Selisih Rp 1.000 itu buat apa? Kita kan sistem B2B. Di situ masuk biaya distribusi ke seluruh Indonesia, bunga bank, loading-unloading, dan lain-lain. Semua ditanggung dari situ karena nggak ada subsidi pemerintah. Dananya dari pinjaman bank,”

jelas Febby.

Dengan skema ini, pengecer masih punya ruang untuk menjual sesuai HET. Lalu bagaimana dengan biaya kirim ke Indonesia Timur yang pasti lebih mahal? Febby mengatakan Bulog akan menerapkan satu harga nasional juga, dengan mekanisme subsidi silang internal.

Berdasarkan data Kemendag, kewajiban DMO MinyaKita per bulan mencapai 200 hingga 250 ribu kiloliter. Dari jumlah itu, BUMN Pangan dapat jatah 35 persen, atau sekitar 60-70 ribu kiloliter. Febby menyebut, Bulog akan berkoordinasi dengan ID Food dan Agrinas Palma Nusantara untuk membagi porsi distribusi.

Soal anggaran yang diperlukan ketiga BUMN ini per bulan di tahun 2026, Febby memberikan perkiraan kasar. “Coba hitung saja. Misal belinya Rp 13.500, sebulan butuh dana segini. Mungkin sekitar Rp 800-an miliar sebulan, kira-kira begitu,” pungkasnya.


Halaman:

Komentar