Harga beras di seluruh Indonesia bakal disamakan. Itulah rencana teranyar Perum Bulog, yang ingin menetapkan patokan Rp 11.000 per kilogram untuk beras SPHP. Skema lama dengan tiga zona Harga Eceran Tertinggi (HET) rencananya akan dihapus begitu saja.
Namun begitu, rencana satu harga ini punya syarat. Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menegaskan pemerintah harus setuju menaikkan margin fee untuk Bulog terlebih dahulu. Angkanya mesti naik jadi 7 persen, setara dengan BUMN besar macam PLN atau Pertamina.
“Jadi nanti dari Sabang sampai Merauke, harga SPHP itu Rp 11.000 per kilo. Tapi dengan catatan, margin fee-nya harus naik dulu. Kalau nggak naik, ya nggak cukup buat biaya kirim ke daerah-daerah yang ongkos transportasinya mahal,”
kata Rizal dalam Konferensi Pers Capaian Krusial Bulog 2025 dan Langkah Strategis 2026 di Jakarta, Jumat (2/1).
Margin fee Bulog ternyata masih mentok di angka Rp 50 sejak 2012 lalu. Rizal berharap, kenaikan fee ini nantinya bisa sejalan dengan peningkatan layanan Bulog kepada masyarakat. “Alhamdulillah, rencananya pemerintah mau menyetujui kenaikan ini. Ini bentuk apresiasi,” jelasnya.
Bulog Potong Rantai Distribusi MinyaKita
Di sisi lain, Bulog juga dapat tugas baru. Mereka kini resmi ditunjuk sebagai distributor MinyaKita. Perannya adalah menyalurkan minyak goreng rakyat itu langsung dari pabrik ke pengecer, tanpa perlu lewat distributor tingkat dua lagi. Aturan ini sudah tertuang dalam Permendag Nomor 43.
Menurut Rizal, kehadiran Bulog di tengah rantai distribusi ini diharapkan bisa menjaga harga MinyaKita tetap stabil, sesuai HET yang ditetapkan di angka Rp 15.700 per liter.
Artikel Terkait
BYD Geser Tesla dari Takhta Raja Mobil Listrik Dunia
Gejolak Global Tak Kuasa Dongkrak Harga Minyak yang Terjebak Pasokan Melimpah
Kriti by Lusy: Menjemput Wastra Tradisional ke Panggung Dunia
Investor Asing Borong Saham Tambang dan Kapal di Hari Pertama BEI 2026