Harga minyak mentah berhasil menguat di akhir perdagangan Jumat lalu. Kenaikan ini, meski tak terlalu tajam, cukup menarik perhatian. Pasar tampaknya bereaksi terhadap dua hal yang saling tarik-menarik: gangguan pasokan akibat aksi blokade Amerika Serikat terhadap kapal tanker Venezuela, dan desas-desus tentang perundingan damai antara Rusia dan Ukraina yang masih jadi tanda tanya besar.
Mengutip data dari Reuters, minyak Brent berjangka naik 1,1 persen ke level USD 60,47 per barel. Sementara itu, patokan AS, West Texas Intermediate (WTI), menguat 0,9 persen menjadi USD 56,66. Naik sih naik, tapi secara keseluruhan pekan lalu kedua patokan ini masih terkoreksi sekitar 1 persen. Ini melanjutkan tren pekan sebelumnya yang bahkan turun lebih dalam, sekitar 4 persen.
Langkah Tegas AS di Perairan Venezuela
Di sisi lain, ketegangan di sekitar Venezuela semakin memanas. AS baru-baru ini mencegat sebuah kapal tanker minyak di perairan internasional lepas pantai Venezuela. Konfirmasi ini datang langsung dari Menteri Keamanan Dalam Negeri AS, Kristi Noem, pada hari Sabtu. Aksi ini bukan yang pertama kalinya, lho. Ini sudah kali kedua dalam beberapa pekan terakhir AS melakukan hal serupa, seiring dengan pengerahan kekuatan militer mereka di kawasan itu.
Noem dengan tegas menyatakan bahwa Penjaga Pantai AS yang melakukan pencegatan terhadap kapal yang terakhir berlabuh di Venezuela.
"Amerika Serikat akan terus mengejar pergerakan ilegal minyak yang dikenai sanksi yang digunakan untuk mendanai terorisme narkoba di wilayah tersebut. Kami akan menemukan Anda, dan kami akan menghentikan Anda," tegas Noem.
Namun begitu, narasi dari pihak Venezuela sama sekali berbeda. Pemerintah di Caracas menyebut tindakan ini sebagai pembajakan internasional yang serius.
"Venezuela mengecam dan menolak pencurian dan pembajakan kapal pribadi baru yang mengangkut minyak, serta penghilangan paksa awak kapal tersebut, yang dilakukan oleh personel militer Amerika Serikat di perairan internasional," bunyi pernyataan resmi mereka.
Mereka bahkan berencana melaporkan kejadian ini ke Dewan Keamanan PBB. Sementara itu, juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, punya argumen lain. Menurutnya, kapal tersebut adalah kapal berbendera palsu yang jadi bagian dari 'armada bayangan' Venezuela untuk menyelundupkan minyak dan mendanai rezim Maduro.
Perusahaan manajemen risiko maritim Vanguard asal Inggris mengidentifikasi kapal yang dicegat itu kemungkinan adalah MT Centuries berbendera Panama. Lokasi pencegatan terjadi di sebelah timur Barbados, di tengah Laut Karibia.
Dampak Blokade dan Pasar yang Menegang
Sejak Presiden Donald Trump memerintahkan blokade total terhadap kapal tanker yang kena sanksi di Venezuela, efeknya langsung terasa. Ekspor minyak mentah Venezuela anjlok drastis. Banyak kapal yang memuat minyak memilih untuk tetap diam di perairan, takut disita, daripada berlayar mengambil risiko.
Ini jadi persoalan serius bagi pasokan. China, sebagai pembeli terbesar minyak Venezuela, yang impornya sekitar 4 persen dari negeri itu, bisa terkena imbas. Pengiriman ke China biasanya mencapai lebih dari 600.000 barel per hari. Kalau embargo ini berlangsung lama, hilangnya pasokan hampir sejuta barel per hari bisa mendongkrak harga minyak global lebih tinggi lagi.
Memang, saat ini pasokan di pasar masih terlihat cukup. Ada jutaan barel minyak yang masih mengapung di kapal tanker dekat China, menunggu dibongkar. Tapi ketegangan ini membuat semua orang waspada.
Kapal Centuries yang dicegat AS tadi, berdasarkan dokumen internal PDVSA, membawa sekitar 1,8 juta barel minyak mentah jenis Merey yang ditujukan ke China. Kapal ini disebut-sebut menggunakan nama samaran "Crag" dan merupakan bagian dari jaringan armada gelap yang memang marak sejak sanksi AS diberlakukan pada 2019.
Menurut data dari TankerTrackers.com, dari puluhan kapal tanker 'bayangan' di perairan Venezuela, puluhan di antaranya telah dikenai sanksi AS. Setidaknya 15 kapal bermuatan penuh minyak mentah dan bahan bakar ada di sana.
Kampanye tekanan Trump terhadap Presiden Nicolas Maduro ini makin meluas. Sudah lebih dari dua lusin serangan militer terjadi di perairan dekat Venezuela, menewaskan sedikitnya 100 orang. Maduro sendiri menuding semua ini adalah upaya AS untuk menggulingkannya dan merebut cadangan minyak terbesar di dunia yang dimiliki Venezuela.
Jadi, pasar minyak sekarang seperti meniti tali. Di satu sisi, ada potensi gangguan pasokan yang nyata dari Venezuela. Di sisi lain, harapan perdamaian Rusia-Ukraina bisa meredam gejolak. Mana yang akan lebih berpengaruh? Waktu yang akan menjawab.
Artikel Terkait
IHSG Turun 0,53% ke 8.103,88, Mayoritas Sektor Terkoreksi
Rupiah Melemah ke Rp16.842 per Dolar Dihantam Sentimen Geopolitik Timur Tengah
MNC Sekuritas Gelar Instagram Live Bahas Strategi Investasi Hadapi Volatilitas Pasar
BPS Catat Penurunan Pengangguran Jadi 7,35 Juta Orang pada November 2025