Wacana Kereta Api IKN Tembus ke Malaysia dan Brunei Masih Digodok Pemerintah

- Sabtu, 20 Desember 2025 | 05:30 WIB
Wacana Kereta Api IKN Tembus ke Malaysia dan Brunei Masih Digodok Pemerintah

Jumat kemarin (19/12), sejumlah kabar penting dari dunia bisnis dan infrastruktur ramai diperbincangkan. Salah satunya adalah kabar terbaru soal rencana mega proyek kereta api yang konon bakal menghubungkan Ibu Kota Nusantara (IKN) dengan Malaysia dan Brunei. Proyek ambisius ini masih dalam tahap kajian, kata pemerintah.

Di sisi lain, pasar komoditas juga bergerak. Harga nikel dunia, yang sempat terpuruk, mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Ini terjadi setelah ada sinyal dari Indonesia, produsen utamanya, soal rencana pengetatan produksi di masa depan.

Proyek Kereta IKN-Malaysia-Brunei: Masih Di Meja Kajian

Odo R.M Manuhutu, Deputi Bidang Koordinasi Konektivitas di Kemenko IPK, mengaku pihaknya masih mempelajari rencana itu. Belum ada keputusan apapun.

“Nanti kita lihat lebih lanjut. Kita akan lihat tentu saja kan dievaluasi pro and cons-nya, manfaat bagi Indonesia apa, kelebihannya apa,”

ujar Odo di kantornya, Jakarta Pusat, Jumat lalu.

Menurutnya, sampai saat ini belum pernah ada diskusi resmi dengan perwakilan Malaysia maupun Brunei terkait wacana tersebut. Jadi, masih sangat prematur.

Rencana ini sendiri awalnya digulirkan oleh Pemerintah Negara Bagian Sarawak, Malaysia. Menteri Pengangkutan Sarawak, YB Dato Sri Lee Kim Shin, dalam kunjungannya ke IKN awal bulan ini (10/12), menyebut pihaknya sedang mengkaji kemungkinan membangun jalur kereta yang melintasi tiga negara: Indonesia, Malaysia, dan Brunei.

Angin Segar untuk Harga Nikel

Harga nikel di pasar global terus merangkak naik. Ini hari ketiga berturut-turut, sekaligus menjadi titik terang setelah harga sempat menyentuh level terendah dalam delapan bulan. Pemicunya? Rencana Indonesia untuk memangkas produksi.

Pada Jumat (19/12), harga naik hingga 1,5 persen. Kenaikan ini terjadi setelah pemerintah mengusulkan target produksi bijih nikel yang lebih rendah untuk tahun 2026. Angkanya sekitar 250 juta ton, jauh turun dari target tahun ini yang hampir 379 juta ton.

Langkah ini jelas respons atas tren harga yang lesu. Nikel, bahan baku penting untuk baja tahan karat dan baterai mobil listrik, kinerjanya tahun ini cukup suram. Di bursa London Metal Exchange (LME), harganya turun lebih dari 3 persen satu-satunya logam industri yang masih terperosok.

Tekanan juga datang dari China yang membanjiri pasar dengan produksinya. Menurut Gao Yin, seorang analis di Shuohe Asset Management Co. China, rencana Indonesia ini berisiko bagi investor pesimis. Apalagi, harga nikel saat ini sudah nyaris menyentuh titik biaya produksi. Situasinya memang rumit.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar