Polisi di Sitaro Jemput Bola Rekam Sidik Jari Pelajar demi Permudah Akses Layanan

- Jumat, 24 April 2026 | 10:45 WIB
Polisi di Sitaro Jemput Bola Rekam Sidik Jari Pelajar demi Permudah Akses Layanan
Berikut adalah hasil penulisan ulang artikel tersebut dengan gaya bahasa yang lebih manusiawi, natural, dan sesuai dengan teknik yang diminta. Aipda Frits Bidara punya cara unik untuk mendekatkan layanan kepolisian ke masyarakat. Di Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, dia memilih untuk jemput bola. Bukan hanya diam di kantor menunggu warga datang. Khususnya, dia menyasar para pelajar. Polisi yang menjabat sebagai Ps Kaur Ident Satreskrim Polres Kepulauan Sitaro ini menggagas program bernama SIGAP. Kepanjangannya Sidik Jari Gratis Presisi. Tapi yang bikin beda, ada embel-embel "Goes To School". Idenya sederhana: mendatangi sekolah-sekolah yang susah dijangkau. Soalnya, nggak semua sekolah punya akses mudah ke kantor polisi. Berkat dedikasinya itu, namanya masuk dalam usulan program Hoegeng Awards 2026. Bukan tanpa alasan. Pria ini sudah mengabdi selama 20 tahun di daerah kepulauan. Dari 2005 sampai 2019, dia bertugas di Kepulauan Talaud. Lalu sejak 2020, dia melanjutkan pengabdiannya di Kepulauan Sitaro. Salah satu yang merasakan langsung manfaat program ini adalah Juniver Kalingka. Dia Ketua OSIS SMAN 1 Siau Barat. Menurutnya, jarak antarwilayah di Sitaro memang cukup jauh. Tapi program ini jadi semacam solusi. "Tetapi melalui kegiatan yang dilakukan oleh Bapak Frits Bidara, sangat menguntungkan bagi kami," kata Juniver saat dihubungi, Senin (16/3/2026). Juniver bilang, biasanya para pelajar harus datang sendiri ke kantor polisi untuk merekam sidik jari. Antre, bolos sekolah, repot. Sekarang, dengan program jemput bola ini, mereka nggak perlu lagi menempuh jarak jauh. "Iya jadi sangat terbantu apa pokoknya dengan adanya kegiatan yang dilakukan oleh Bapak Frits Bidara," tuturnya. Nah, bagaimana sih awal mula program ini muncul? Aipda Frits sendiri yang cerita. Kegiatan yang sudah berjalan sejak 2024 ini lahir karena satu masalah: database sidik jari di Sitaro masih kurang banget. "Jadi kita mengadakan salah satu programnya itu untuk menambah database-nya itu lewat program Sidik Jari Goes To School. Jadi kita ke daerah-daerah terpencil, Bang. Karena banyak daerah-daerah terpencil di daerah kita itu kan daerah kepulauan. Jadi sulit dijangkau. Jadi kita berinisiatif, kami langsung turun ke lokasi sekolah-sekolah, kita menjaring ke sekolah-sekolah untuk pengambilan sidik jari," jelas Aipda Frits. Menurutnya, perekaman sidik jari ini punya banyak manfaat. Salah satunya buat para pelajar yang ingin mendaftar TNI atau Polri setelah lulus SMA. Nggak perlu repot-repot lagi. "Jadi kita mendatangi mereka sehingga dengan program ini mereka juga bisa terbantu," ujarnya. Lebih dari itu, sidik jari juga berguna dalam investigasi perkara. Atau saat ada penemuan mayat, identifikasi sidik jari jadi kunci. "Jadi ketika kita memiliki database di dalam sistem kita, kita akan dengan mudah mengungkap," imbuh dia. Awal Mula Program SIGAP Goes To School Ceritanya, saat ditugaskan jadi Kaur Identifikasi, Aipda Frits mulai mikir. Dia ingin bikin terobosan. Selama ini, masyarakat susah mendapatkan layanan sidik jari. Jaraknya jauh, antreannya panjang. "Banyak juga masyarakat mengeluh, 'Pak, bisa nggak kira-kira ada program supaya kita bisa di kecamatan atau di kampung bisa datang?' Bisa datang supaya kami bisa dilayani, tidak mengantre-antre panjang begitu, Pak," kata Aipda Frits menirukan keluhan warga. Dari situ, dia mengusulkan program SIGAP Goes To School ke Kapolres Kepulauan Sitaro. Pimpinannya langsung mendukung. "Jadi supaya masyarakat... untuk pentingnya itu karena saya melihat pertama memangkas waktu masyarakat, apalagi anak sekolah," ujar dia. Nggak cuma waktu, biaya perjalanan juga jadi beban. Dengan program jemput bola ini, masyarakat bisa terlayani maksimal tanpa perlu keluar biaya banyak. "Jadi kalau kita turun langsung setidaknya kita bisa membantu mereka, baru mereka juga misalnya dalam apa namanya pelayanan kita bisa maksimal," imbuhnya. Dia mengungkapkan, jarak dari beberapa wilayah ke Polres bisa memakan waktu berjam-jam. Bahkan dari pulau terjauh, warga harus tempuh perjalanan sampai enam jam. Dalam pelaksanaannya, Aipda Frits biasanya koordinasi dulu sama pihak sekolah. Komunikasi intensif. Mereka tentukan waktu yang pas biar kegiatan perekaman sidik jari lancar. "Kita koordinasi dengan mereka mengenai waktunya dan kita juga sampaikan visi dan misi kita juga dalam melakukan program ini. Kita sampaikan ke mereka. Jadi, ketika kita mau turun lapangan ke pengambilan sidik jari memang pihak sekolah juga sangat mendukung," kata Frits. Sejak 2024, sudah tujuh sekolah yang berhasil dijangkau. Total siswa yang ikut mencapai 1.200 orang. "Kalau untuk sekolah udah banyak. Di wilayah kabupaten kita hampir semua sudah terjangkau," kata Aipda Frits. Dia bersyukur program ini disambut positif. Harapannya, kegiatan SIGAP Goes To School bisa terus menjangkau seluruh pelajar di Kepulauan Sitaro. "Jadi respons dari masyarakat sangat antusias. Karena apalagi masyarakat yang di daerah-daerah kepulauan terpencil, yang di daerah-daerah terpencil mereka sangat apresiasi untuk program Polri khususnya ini," imbuhnya.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar