Peta aliansi di Timur Tengah tampaknya sedang diacak ulang. Pekan lalu di Davos, suasana Forum Ekonomi Dunia tak hanya diwarnai pembicaraan ekonomi. Di sela-sela itu, Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan, bertemu dengan koleganya dari Mesir, Badr Abdelatty. Pertemuan itu, menurut pernyataan resmi Riyadh, membahas "berbagai isu kepentingan bersama". Tapi, banyak yang menduga percakapan mereka jauh lebih spesifik.
Mereka kemungkinan besar membicarakan undangan dari Donald Trump untuk bergabung dengan Dewan Perdamaiannya. Namun begitu, yang juga menarik perhatian adalah wacana pakta pertahanan baru antara kedua negara. Isu ini semakin panas dengan kabar bahwa Presiden Somalia, Hassan Sheikh Mohamud, akan segera terbang ke Arab Saudi. Tujuannya? Konon untuk menandatangani perjanjian pertahanan serupa.
Bayangkan jika Somalia benar-benar masuk. Maka, akan tercipta pakta trilateral antara Riyadh, Kairo, dan Mogadishu. Kekuatan semacam itu akan memperkuat cengkeraman Saudi dan Mesir di wilayah Afrika sekitar Selat Bab el-Mandeb. Itu adalah jalur pelayaran vital penghubung Laut Merah, Teluk Aden, dan Samudra Hindia. Pengaruh mereka pun akan meluas secara signifikan.
Benarkah Akan Terbentuk 'NATO Islam'?
Laporan dari Bloomberg menambah dimensi baru. Turki disebut tertarik untuk bergabung dengan "Perjanjian Pertahanan Timbal Balik Strategis" yang sudah dijalin Arab Saudi dan Pakistan sejak September lalu. Jika ini terjadi, maka terbentuklah aliansi baru yang oleh beberapa pengamat dijuluki "NATO Islam".
Aliansi ini akan memadukan senjata nuklir Pakistan, kekuatan finansial Arab Saudi, dan teknologi militer mutakhir Turki. Sebuah kombinasi yang cukup ditakuti.
"Kesepakatan ini bukan blok simbolis," tulis Sergio Restelli, seorang penasihat politik dan pakar geopolitik asal Italia, dalam sebuah opini.
"Ia menyatukan kemampuan nuklir, kendali atas jalur perairan strategis, kekuatan ekspedisi, dan pengaruh ideologis," jelasnya.
Menurut Restelli, gabungan kekuatan itu bisa menciptakan poros keamanan raksasa. Membentang dari Mediterania timur, melintasi Laut Merah, hingga ke Samudra Hindia. Sebuah kesinambungan geografis yang belum pernah ada di antara negara-negara Muslim. Dan tentu saja, ini berpotensi mengikis pengaruh Amerika Serikat di kawasan.
Lalu, apa yang mendorong Arab Saudi begitu agresif membangun pakta-pakta baru ini? Sami Hamdi, direktur pelaksana perusahaan intelijen The International Interest di London, punya analisis. Menurutnya, ini semua berakar pada rasa tidak aman. Ada pandangan yang berkembang bahwa payung keamanan AS sudah tidak bisa diandalkan lagi.
"Ada pandangan yang berkembang di kawasan bahwa Amerika Serikat tidak lagi bisa diandalkan untuk melindungi keamanan negara-negara Teluk," ujar Hamdi.
Dia memberi contoh serangan Houthi terhadap fasilitas minyak Saudi di 2019 yang tak dibalas AS. Juga insiden di September 2025, ketika Israel sekutu dekat AS melancarkan serangan terhadap kepemimpinan Hamas di Doha, Qatar.
Retakan di Antara Sekutu Lama
Dinamika ini terjadi di tengah ketegangan yang justru meretakkan hubungan antara dua raksasa Teluk: Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Persaingan mereka terlihat jelas di medan perang Sudan dan Yaman, di mana masing-masing mendukung faksi yang bertikai.
Pada Desember lalu, Arab Saudi bahkan menyerang kamp militer Dewan Transisi Selatan di Yaman, sebuah kelompok yang didukung oleh Uni Emirat Arab. Belum lama ini, Riyadh juga dilaporkan menawarkan kesepakatan senjata senilai 1,5 miliar dolar AS kepada militer Sudan. Paket itu termasuk jet tempur dari Pakistan, yang bisa digunakan melawan Pasukan Dukungan Cepat (RSF) di Darfur. Nah, kelompok RSF ini sendiri diduga kuat dipersenjatai oleh Uni Emirat Arab, meski Abu Dhabi membantahnya.
Tentu saja, Abu Dhabi tidak tinggal diam. Mereka merespons dengan cara sendiri: menjalin perjanjian komprehensif dengan India. Ini menarik, karena India adalah rival geopolitik Pakistan. Kesepakatan itu tak hanya soal perdagangan gas, tapi juga kerja sama nuklir yang erat.
"Saya pikir kesepakatan Uni Emirat Arab–India bukan semata soal teknologi militer, tetapi juga pernyataan politik," kata Hamdi.
"Di tengah keretakan dengan Arab Saudi, Uni Emirat Arab ingin menunjukkan kekuatan. Ya, Arab Saudi mungkin lebih besar secara geografis, tetapi Uni Emirat Arab tetap memiliki posisi internasional," tambahnya.
Tapi, Akankah Mereka Benar-Benar Berpisah?
Meski tarik-menarik kepentingan ini terlihat rumit, beberapa analis meragukan akan terjadi perpecahan total. Cinzia Bianco dari European Council on Foreign Relations menilai, sulit membayangkan Riyadh dan Abu Dhabi benar-benar berpisah dalam waktu dekat.
"Keduanya Uni Emirat Arab dan Arab Saudi sama-sama duduk di Dewan Perdamaian Donald Trump," tuturnya.
Bianco juga mengingatkan bahwa jaringan aliansi ini saling bertaut. Turki, calon mitra baru Saudi, ternyata masih punya hubungan baik dengan Uni Emirat Arab. Jadi, menurutnya, pakta-pakta pertahanan baru ini tidak serta-merta akan memicu perpecahan besar. Apalagi, Amerika Serikat masih menjadi faktor penentu.
"Jika kita berbicara tentang geopolitik koalisi, Anda juga tidak bisa bergerak jauh tanpa Amerika Serikat di pihak Anda," katanya.
Faktanya, Uni Emirat Arab adalah sekutu militer AS yang penting, dengan banyak pangkalan di sana. Sementara hubungan AS dan Arab Saudi juga sedang mesra, terbukti dari berbagai kesepakatan besar yang ditandatangani dalam kunjungan Trump ke Riyadh.
Dengan kondisi itu, pengaruh pakta-pakta baru ini mungkin tetap terbatas. Gagasan "NATO Islam" dinilai terlalu berlebihan.
"Gagasan tentang NATO Islam sedikit berlebihan," ujar Hamdi.
Menurut dia, perbedaan ideologis dan kepentingan di antara negara-negara tersebut masih sangat besar. "Kesepakatan-kesepakatan ini lebih berkaitan dengan transfer teknologi dan upaya mengejar otonomi tertentu," pungkasnya.
Jadi, meski roda politik terus berputar, perubahan besar mungkin masih harus ditunggu. Semua masih bermain di wilayah yang sama, dengan sekutu lama yang masih punya pengaruh kuat.
Artikel Terkait
Timnas Hoki Putri Fokus Rebut Perunggu Usai Gagal ke Final Kualifikasi Asian Games 2026
Puan Maharani Desak Perbaikan Sistem Keselamatan Perkeretaapian Usai Tabrakan Beruntun di Bekasi
Dua Tersangka Baru di Kasus Korupsi Desa Muba, Termasuk Staf Ahli Bupati dan Advokat
Bayi Diduga Dianiaya Pengasuh di Daycare Banda Aceh, Polisi Amankan Pelaku