Pemerintah Siapkan KUR Rp 10 Triliun untuk Kaderisasi Pekerja Gig Economy

- Kamis, 18 Desember 2025 | 12:06 WIB
Pemerintah Siapkan KUR Rp 10 Triliun untuk Kaderisasi Pekerja Gig Economy

Pemerintah baru saja merilis program pelatihan khusus untuk para pekerja di sektor Gig Economy, dengan generasi Z sebagai sasaran utamanya. Ini bukan program biasa. Langkah ini diambil sebagai bagian dari paket stimulus ekonomi 17-8-45, yang tujuannya jelas: menjaga laju pertumbuhan nasional sekaligus mencetak lebih banyak lagi pelaku usaha digital yang produktif.

Menurut Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, program ini nantinya bakal dapat dukungan pendanaan lewat skema Kredit Usaha Rakyat (KUR). Khusus untuk hasil pelatihan yang dinilai benar-benar produktif, pemerintah sudah menyiapkan dana hingga Rp 10 triliun.

“Pemerintah sudah menyiapkan kalau mereka bisa menghasilkan sesuatu yang seperti produktif, (pemerintah) menyiapkan kredit usaha rakyat sampai dengan Rp 10 triliun. Nah dari Rp 10 triliun itu tentunya kita berharap ini bisa direalisasikan di tahun depan,”

kata Airlangga usai meluncurkan program tersebut di Jakarta Creative Hub, Kamis (18/12) lalu.

Bagi yang belum familier, Gig Economy pada dasarnya adalah pola kerja lepas berbasis proyek jangka pendek, yang mengandalkan platform digital. Para pekerjanya tidak terikat kontrak tetap. Model ini sekarang makin digandrungi anak muda, merambah dari ekonomi kreatif, layanan aplikasi, sampai ke pengembangan teknologi mutakhir seperti AI dan Internet of Things.

Nah, yang menarik, setiap proyek dari hasil pelatihan ini berpeluang dapat plafon KUR sampai Rp 500 juta. Dan angka itu masih bisa ditambah, lho.

“Nanti kalau ada use case, ada case lebih dari Rp 500 juta, kita beri juga kita buka,”

tambah Airlangga.

Di sisi lain, program yang diluncurkan tak cuma pelatihan Gig Economy. Ada juga AI Open Innovation Challenge atau Hackathon. Alasannya? Airlangga melihat potensi luar biasa dari Gig Economy di sektor kecerdasan buatan.

“Pada saat ini Indonesia khusus untuk AI itu tumbuh 127 persen dan 91 juta telah mengalir ke sektor AI di semester I (2025), dan dari hasil research daripada Google, Indonesia adalah negara dengan tingkat adopsi tertinggi di ASEAN. Kemudian di seluruh Asia kita nomor 4, dan nilai pasar AI di Indonesia akan mencapai USD 70,6 miliar,”

paparnya.

Untuk tahap awal, program ini akan didorong di 15 daerah. Jakarta dapat giliran pertama sebagai pilot project, dengan Jakarta Creative Hub yang sudah disiapkan Pemprov DKI jadi lokasinya.

“DKI menyiapkan gedung ini khusus untuk pengembangan digital, dan tadi baru dibuka 1 lantai, punya potensi 6 lantai atau 7 ribu meter. Sehingga tentu ekosistem AI ini menjadi ekosistem yang penting,”

jelasnya.

Swasta Diajak Gerak Cepat Kembangkan Ekosistem IoT

Dalam kesempatan yang sama, Airlangga juga menyentil peran swasta. Ia mendorong agar mereka ikut terjun mengembangkan ekosistem digital, khususnya untuk IoT. Salah satu yang disebut adalah PT Jababeka Tbk.

Harapannya, Jababeka bisa membangun ekosistem IoT di berbagai kawasan industri mereka.

“Di Cilegon itu klasternya industri. Kemudian di Semarang, kalau di Semarang back to back sama Kendal, kemudian di Maluku. Jadi itu untuk anak muda, bapak (Jababeka) yang siapin, cari mentornya, cari industrinya,”

tutup Airlangga.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar