"Ini realisasi strategi kami untuk memperkuat profitabilitas lewat otomatisasi, standardisasi proses, dan perawatan yang bersifat prediktif serta preventif," jelas Desra.
Sektor lain dalam grup IKAI, yakni perhotelan, juga tak kalah bersinar. Sepanjang 2025, performanya berada di atas rata-rata nasional. Indikator seperti okupansi dan laba operasi kotor membuktikannya. Swiss-Belhotel Bogor, contohnya, mencatat okupansi hingga 89,63 persen. Sementara Swiss-Belinn Gajah Mada Medan berada di angka 74,56 persen.
Lalu, bagaimana strategi ke depan? Untuk tahun 2026, IKAI akan fokus pada empat pilar. Di antaranya adalah peningkatan skill SDM, modernisasi proses bisnis, program akuisisi pasar, dan target operasional per segmen.
Pada lini manufaktur, Essenza dinilai punya pasar yang sangat luas. Pertumbuhannya akan bersifat multidimensi. Vertikal, dengan menambah kapasitas produksi. Horizontal, lewat inovasi produk baru, masuk ke segmen super luxurious, dan menjalin aliansi strategis dengan pemain global dan desainer ternama dunia.
Sedangkan untuk sektor hotel, strateginya lebih pada peningkatan kualitas pendapatan dan menciptakan sumber pendapatan baru.
"Kami akan mengoptimalkan strategi komersial portofolio hotel. Fokusnya adalah profitability over volume," pungkas Desra.
Dengan langkah-langkah tersebut, IKAI tampaknya siap menyambut tahun 2026 dengan lebih percaya diri.
Artikel Terkait
Rapat Tertutup Malam Sabtu: Menteri dan OJK Bahas Calon Pimpinan Baru BEI
Gelombang Modal Asing Meninggalkan Pasar RI, BI Waspadai Gejolak
Pemangkasan Produksi Batu Bara 70 Persen, Ancaman PHK Massal Mengintai
APBI Soroti Pemangkasan Produksi Batu Bara 2026, Ancaman PHK dan Guncangan Ekonomi Mengintai