Penurunan ini terjadi di hampir semua kelompok. Baik pada lembaga keuangan maupun perusahaan non-keuangan, masing-masing tercatat kontraksi 4,7% dan 1,2% secara tahunan. Dari sisi sektor ekonomi, utang swasta kita masih bertumpu pada empat pilar utama: Industri Pengolahan, Jasa Keuangan dan Asuransi, Pengadaan Listrik dan Gas, serta Pertambangan. Keempatnya menyumbang 80,9% dari total ULN swasta.
Secara keseluruhan, struktur utang luar negeri Indonesia dinilai masih sehat. Prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya terbukti menjaga rasio ULN terhadap PDB di angka yang terkendali, yaitu 29,3% di Oktober 2025. Selain itu, dominasi utang jangka panjang juga sangat kuat, mencapai 86,2% dari total ULN. Ini memberikan ruang gerak yang lebih aman.
Menyikapi hal ini, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus menjaga stabilitas.
"Bank Indonesia dan Pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN. Peran ULN juga akan terus dioptimalkan untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan," ujar Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI.
Upaya koordinasi itu, lanjutnya, dilakukan dengan satu tujuan utama: meminimalkan segala risiko yang bisa menggoyahkan stabilitas perekonomian kita ke depan.
Artikel Terkait
Gangguan Pasokan Timur Tengah Ancam Kerek Harga Aluminium
Pajak Rokok DKI Alokasikan Minimal 50% untuk Pelayanan Kesehatan Masyarakat
Bapanas Pastikan Stok Daging Nasional Melimpah Jelang Idulfitri
Saham Asia Menguat Didorong AI, Waspada Gejolak Harga Minyak