Corporate Secretary Green Power, Lu Haiying, sebelumnya sempat berkomentar. Ia menyatakan perseroan siap menggelar RUPSLB jika diperlukan untuk menyesuaikan struktur Dewan Direksi. Pernyataan ini merupakan respons langsung atas penangkapan An Shaohong.
"Perseroan belum bisa mengontak An," ujar Lu Haiying.
Ia menambahkan, perusahaan masih terus memantau perkembangan berita dan berusaha melakukan verifikasi ke instansi yang berwenang. Menurutnya, masalah imigrasi yang menjerat An Shaohong adalah urusan pribadi.
“Tidak ada sangkut pautnya dengan kegiatan usaha operasional Green Power,” tegas dia.
Jadi, semua mata kini tertuju pada Januari 2026. RUPSLB itu nanti akan menentukan langkah perusahaan ke depan, terutama dalam mengisi kekosongan pucuk pimpinan.
Artikel Terkait
Pendapatan Trimegah Sekuritas Melonjak 85% Jadi Rp1,68 Triliun pada 2025
BREN Pacu Kapasitas Panas Bumi, Targetkan Lampaui 1 GW pada 2026
CP Prima Catat Laba Bersih Rp424 Miliar, Naik 32% pada 2025
Laba Bersih INKP dan TKIM Berjalan Berbeda Meski Penjualan Sama-Sama Turun Tipis