Pramugari Gadungan Palembang Tertangkap Basah, Batik Air Pilih Damai

- Jumat, 09 Januari 2026 | 05:15 WIB
Pramugari Gadungan Palembang Tertangkap Basah, Batik Air Pilih Damai

Media sosial lagi-lagi digegerkan oleh sebuah kasus yang unik. Kali ini tentang seorang wanita asal Palembang, Khairun Nisa atau yang akrab disapa Nisya, yang tertangkap basah berpura-pura menjadi pramugari Batik Air. Kejadiannya berlangsung dalam penerbangan dari Palembang menuju Jakarta, Selasa lalu.

Yang bikin publik penasaran, penampilan Nisya benar-benar sempurna. Seragamnya lengkap, atributnya juga mirip sekali dengan pramugari sungguhan. Tapi ya, penampilan memang kerap menipu. Dari balik seragam rapi itu, tersembunyi sebuah aksi nekat yang akhirnya terbongkar juga.

Lantas, apa saja fakta di balik kasus yang viral ini? Simak ulasannya.

Mengulik Sosok di Balik Seragam Palsu

Dalam sebuah video klarifikasi, Nisya mengaku usianya 23 tahun. Dia berasal dari Palembang, Sumatera Selatan. Rupanya, obsesinya menjadi pramugari sudah mengakar cukup dalam.

Semua berawal saat dia naik pesawat dengan tiket biasa pada 6 Januari lalu. Tapi, dia memilih untuk mengenakan seragam Batik Air. Kelakuan ini tentu mencurigakan bagi kru kabin yang berpengalaman. Salah seorang pramugari pun mendatanginya dan mulai mengajukan beberapa pertanyaan.

Jawaban Nisya terasa janggal. Pemeriksaan pun berlanjut ke ID card yang dibawanya. Dan benar saja, kartu identitasnya sudah kedapatan tidak berlaku. Begitu pesawat mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Nisya langsung diamankan petugas untuk diperiksa lebih lanjut.

Motif dan Akhir Kisah yang Tak Terduga

Setelah diselidiki, motif Nisya ternyata cukup kompleks. Dia terobsesi menjadi pramugari, bahkan pernah mengikuti tes dengan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit sekitar Rp30 juta. Sayangnya, dia gagal.

Rasa malu karena sudah mengeluarkan uang banyak dan gagal, diduga menjadi pemicunya. Daripada dianggap tidak berhasil, dia memilih jalan pintas yang salah: berlagak sebagai pramugari gadungan.

Lalu, dari mana dapat seragamnya? Ternyata, seragam dan atribut pramugari itu dibeli sendiri oleh Nisya dari sebuah toko online. Semuanya dia beli untuk mendukung 'perannya' itu.

Namun begitu, ada hal yang cukup mengejutkan dari akhir kasus ini. Batik Air, sebagai pihak yang dirugikan, memutuskan untuk tidak membawa masalah ini ke ranah hukum. Kedua belah pihak memilih berdamai.

Alasannya, menurut investigasi, tidak ditemukan indikasi tindak pidana yang serius. Nisya juga telah membuat pernyataan tertulis yang isinya janji untuk tidak mengulangi perbuatannya lagi.

Begitulah cerita Nisya, si pramugari gadungan yang sempat menjadi buah bibir. Kasusnya memang aneh, tapi mungkin bisa jadi pelajaran. Terkadang, obsesi buta bisa membawa orang pada pilihan yang salah. Bagaimana menurutmu?

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar