Di sisi lain, ada juga faktor lain yang berperan. Sejumlah calon emiten rupanya memilih untuk menunda rencana IPO mereka. Mereka lebih memilih menunggu momentum pasar yang dirasa lebih tepat, sambil mempertimbangkan strategi bisnis internal dan tentu saja, kondisi pasar yang sedang berlangsung.
"OJK memandang dinamika ini sebagai bagian dari proses pendalaman pasar yang sehat dan berorientasi jangka panjang," imbuh Inarno.
Kalau dilihat dari pipeline yang ada, sebenarnya masih ada 13 perusahaan yang antre. Rinciannya, dua perusahaan skala kecil, empat skala menengah, dan yang cukup menarik, tujuh perusahaan lainnya masuk kategori aset skala besar. Jadi, potensinya masih ada, tinggal tunggu waktu eksekusinya saja.
Jadi, penurunan angka target IPO ini lebih kepada penyesuaian realitas dan strategi. Bukan berarti pasar modal Indonesia lesu, tapi mungkin sedang memilih untuk lebih matang sebelum melangkah.
Artikel Terkait
IHSG Pacu Kenaikan 97 Poin, Saham Tekstil Jadi Primadona di Akhir Pekan
Pasca Trading Halt, Direktur Utama BEI Iman Rahman Mengundurkan Diri
Puluhan Emiten BEI Terancam Delisting Gara-gara Aturan Free Float
Ketua OJK Dapat Kabar Mundurnya Dirut BEI dari YouTube