Jalur Vital Sumut Dibuka, Pemulihan Pascabencana Dimulai dari Akses

- Minggu, 14 Desember 2025 | 14:06 WIB
Jalur Vital Sumut Dibuka, Pemulihan Pascabencana Dimulai dari Akses

Pascabencana yang melanda, upaya pemulihan konektivitas di Sumatera Utara terus digenjot. Kementerian PU memastikan akses utama perlahan tapi pasti mulai pulih. Ruas strategis Lintas Timur yang menghubungkan Medan hingga perbatasan Aceh, misalnya, kini sudah bisa dilalui lagi. Perbaikan jalan dan jembatan memang dikebut.

Menteri PU, Dody Hanggodo, menegaskan bahwa membuka kembali jalur transportasi adalah langkah pertama yang krusial.

“Pascabencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, pembukaan kembali jalur transportasi menjadi prioritas utama sebelum pemerintah berbicara lebih jauh mengenai tahap rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur,” jelas Dody dalam keterangan tertulisnya, Minggu (14/12).

Intinya, akses untuk masyarakat dan distribusi logistik harus normal dulu. Baru kemudian pembahasan bisa merambah ke tahap pemulihan yang lebih menyeluruh.

Untuk mewujudkan itu, upaya gabungan dilakukan. Kementerian PU bersama Pemprov Sumut telah mengerahkan puluhan alat berat dan ribuan material penanganan bencana. Fokusnya jelas: buka akses, perbaiki darurat, dan bersihkan sisa-sisa material banjir yang masih mengganggu.

Dampaknya ternyata cukup luas. Dari data sementara, tercatat 12 ruas jalan nasional dan 4 jembatan nasional yang terdampak. Belum lagi puluhan ruas jalan dan jembatan di tingkat daerah. Penanganan darurat pun dilakukan bertahap, menitikberatkan pada jalur-jalur vital agar tetap berfungsi.

Di sisi lain, kabar baik datang dari jaringan tol. Semua ruas yang terdampak di Sumut sudah beroperasi normal. Hanya saja, ada sedikit catatan untuk Ruas Tol Medan–Kualanamu–Tebing Tinggi. Di sana, sistem contraflow masih diterapkan sejak awal Desember. Targetnya, sebelum tanggal 16 Desember nanti, kondisi lalu lintas di ruas itu sudah bisa benar-benar normal.

Namun begitu, pemulihan tak cuma soal jalan dan jembatan. Penanganan juga menyentuh hal-hal mendasar. Seperti pengendalian banjir dan, yang tak kalah penting, ketersediaan air bersih bagi warga.

Di sektor Sumber Daya Air, kerusakan teridentifikasi di puluhan sungai, bendung, dan sistem air baku. “Kementerian PU terus melakukan identifikasi kerusakan dan penanganan darurat untuk menjaga fungsi infrastruktur pengendalian banjir dan ketersediaan air,” ujar Dody menambahkan.

Upaya darurat di sektor permukiman pun berjalan. Setelah mengidentifikasi kerusakan pada puluhan unit instalasi air, bantuan segera disalurkan. Mulai dari hidran umum, mobil tangki air, hingga toilet portable didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat yang terdampak.

Yang juga memprihatinkan, bencana ini turut melanda prasarana sosial. Ratusan sekolah, madrasah, pondok pesantren, hingga rumah ibadah ikut terdampak. Data kerusakan ini nantinya akan menjadi pijakan untuk menyusun langkah rehabilitasi dan rekonstruksi yang lebih terarah pascabencana. Jalan masih panjang, tapi akses yang mulai terbuka memberi secercah harapan.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar