Ketergantungan Bahan Baku Obat 85 Persen Impor, Kemenperin Soroti Potensi Alam Lokal

- Selasa, 09 Desember 2025 | 12:48 WIB
Ketergantungan Bahan Baku Obat 85 Persen Impor, Kemenperin Soroti Potensi Alam Lokal

Sebagian besar bahan baku untuk obat-obatan di Indonesia tepatnya 85 persen masih didatangkan dari luar negeri. Fakta ini disampaikan oleh Kementerian Perindustrian. Meski begitu, ada kabar baik: hampir semua produk obat jadi, sekitar 95 persen, kini sudah diproduksi di dalam negeri berkat upaya hilirisasi di sektor kesehatan.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan hal itu dalam sebuah keterangan, Selasa (9/12).

"Saat ini bahan baku farmasi kita masih sekitar 85 persen impor, terutama dari India dan China," ujarnya.

Namun begitu, dia menekankan bahwa ketergantungan ini bisa dipatahkan. Kuncinya ada pada kekayaan alam lokal. "Kita hanya bisa mematahkan dominasi India dan China kalau mampu mengembangkan bahan baku dari kekayaan alam kita sendiri," tambah Agus.

Potensinya sebenarnya sangat besar. Indonesia punya beragam tanaman obat dan minyak atsiri yang tersebar di berbagai daerah. Menurut Menperin, sumber daya alam ini bisa menjadi tulang punggung untuk memperkuat industri farmasi nasional. Dengan begitu, Indonesia tak selamanya bergantung pada impor dan bisa memenuhi kebutuhan domestik secara mandiri.

Agus juga memberi contoh nyata. Salah satunya adalah bahan aktif dari tanaman meniran yang sudah diekspor ke Inggris.

"Itu artinya industri kita sudah bisa memenuhi standar yang tinggi, karena Inggris itu salah satu negara dengan regulasi obat yang paling ketat," jelasnya.

Di sisi lain, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono melihat hilirisasi sebagai strategi penting. Tujuannya agar Indonesia tidak sekadar menjadi pasar, melainkan juga produsen utama untuk obat, vaksin, dan alat kesehatan.

Transformasi sistem kesehatan yang sedang berjalan, kata Dante, mengarah pada model yang lebih proaktif dan mengandalkan teknologi. Inovasi dari industri dalam negeri memegang peran krusial di sini.

"Kita memiliki dua dekade untuk memastikan mereka tumbuh menjadi generasi yang sehat, kuat, cerdas, dan berdaya saing global," tuturnya.

Bagaimana kinerja sektornya secara angka? Ternyata cukup solid. Hingga kuartal ketiga 2025, industri kimia, farmasi, dan obat tradisional tercatat tumbuh 11,65 persen secara tahunan. Angka ini melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,04 persen.

Data BPS menunjukkan nilai investasi di sektor ini mencapai Rp 65,9 triliun. Sementara nilai ekspornya menyentuh USD 15,22 miliar. Kontribusinya terhadap manufaktur nasional pun signifikan: menyumbang 17,39 persen terhadap PDB dan menyerap lebih dari 20 juta tenaga kerja. Sebuah pencapaian yang patut dicatat.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar