FAST Pacu Ekspansi, Targetkan 1.000 Gerai dengan Dukungan Pemegang Saham Baru

- Minggu, 07 Desember 2025 | 14:50 WIB
FAST Pacu Ekspansi, Targetkan 1.000 Gerai dengan Dukungan Pemegang Saham Baru

PT Fast Food Indonesia, atau FAST, sedang bersiap untuk babak baru. Perusahaan yang mengelola KFC dan Taco Bell di tanah air ini baru saja mendapat suntikan semangat dari masuknya PT Shankara Fortuna Nusantara (SFN) sebagai pemegang saham. Sentimen positif pun langsung mengudara, menandai awal dari upaya percepatan pemulihan bisnis mereka.

Sebenarnya, pondasi FAST sudah cukup kokoh. Di belakangnya ada dua grup besar: Gelael menguasai 41,2 persen saham, sementara Grup Salim lewat DNET memegang 37,5 persen. Mereka sudah bekerja sama sejak era 90-an. Nah, kehadiran SFN yang mengambil porsi sekitar 35 persen di Jagonya Ayam Indonesia seperti memberi angin segar. Kolaborasi ini diharapkan bisa mendorong turnaround berjalan lebih kencang.

Menurut analis Samuel Sekuritas, Jonathan Guyadi, dukungan dari para pemegang saham kuat ini, ditambah sinergi baru, menempatkan FAST di jalur yang tepat. “Kolaborasi baru dengan PT SFN memberikan sentimen segar dan positif,” tulisnya dalam riset yang dirilis Jumat (5/12/2025).

“Sekaligus membantu memastikan keberlanjutan proses pemulihan kinerja FAST,” tambahnya.

Lantas, apa rencana mereka ke depan? Ekspansi, tentu saja. Fokusnya adalah membuka dan merelokasi gerai ke wilayah-wilayah yang masih kurang terjamah, seperti kota tier-2 dan area hub strategis. Saat ini, FAST sudah mengoperasikan 715 gerai yang tersebar di 173 kota. Tapi faktanya, sekitar 70 persen outlet QSR nasional masih bertumpu di kota besar tier-1. Artinya, ruang untuk tumbuh masih sangat luas.

Targetnya ambisius: 50-70 gerai baru per tahun, dengan harapan bisa mencapai 1.000 outlet pada 2030. Kalau strategi ini berjalan mulus, pendapatan diproyeksikan tumbuh dengan CAGR 11 persen antara 2026-2030. Dorongan utamanya berasal dari peningkatan produktivitas gerai dan pertumbuhan SSSG yang stabil di kisaran 2 persen.

Di sisi profitabilitas, ada angin perubahan. Margin EBIT FAST diperkirakan akan merangkak naik mendekati 4 persen pada 2030. Hal ini sejalan dengan upaya efisiensi operasional, pelonggaran tekanan biaya, dan optimalisasi lokasi. Bahkan, laba bersih diprediksi kembali positif pada 2027, lalu melesat dengan CAGR tiga tahun mencapai 41,3 persen hingga menyentuh Rp302 miliar di akhir dekade.

Tidak berhenti di ritel, FAST juga merambah ke hulu. Mereka mendiversifikasi bisnis ke sektor perunggasan terpadu lewat sebuah entitas anak. Langkah ini bukan cuma membuka sumber pendapatan baru, tapi juga berpotensi menekan biaya bahan baku. Integrasi rantai pasok ayam broiler konon bisa memotong harga pokok hingga 8-13 persen dalam jangka panjang.

Jonathan memproyeksikan, bisnis perunggasan yang mulai beroperasi pada 2027 ini bisa menyumbang pendapatan sekitar Rp853 miliar. Proyeksi CAGR lima tahunnya (2027-2032) sebesar 5,2 persen, seiring dengan peningkatan kapasitas produksi dan permintaan yang tetap solid.

Melihat semua potensi ini, Samuel Sekuritas memberi rekomendasi Spec-BUY untuk saham FAST. Target harganya Rp1.000, yang berarti potensi kenaikan hampir 98 persen dari level saat ini.

“Valuasi tersebut menggunakan multiple P/S 0.9x, sejalan dengan emiten regional yang lebih besar,” jelas Jonathan.

Selain cerita pertumbuhan organik, ada peluang lain yang menggiurkan. FAST berpeluang masuk ke MSCI Small Cap Index jika kapitalisasi pasarnya bisa naik hingga sekitar Rp4,6 triliun, atau setara dengan Rp4.800 per saham.

Namun begitu, tentu ada risiko yang harus diwaspadai. Pelemahan daya beli masyarakat adalah salah satunya. Lalu, ketidakpastian geopolitik termasuk dampak boikot terhadap merek global dan volatilitas harga bahan baku juga jadi faktor yang perlu dicermati.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar