Menjelang Natal dan Tahun Baru, prospek sektor unggas tampak cerah. Analis memproyeksikan momentum positif ini akan bertahan, didorong oleh lonjakan permintaan khas akhir tahun dan yang tak kalah penting prospek biaya pakan yang lebih stabil. Ini jadi kabar baik untuk para investor yang mengamati sektor konsumsi.
CGS International Sekuritas Indonesia sendiri sudah menyematkan rating 'Overweight' untuk sektor ini. Optimisme mereka muncul dari ekspektasi pemulihan permintaan di kuartal akhir tahun.
Menurut analis CGS International, Jason Chandra, ada faktor pendorong lain yang berperan. Penyaluran bantuan langsung tunai (BLT) pada periode Oktober-Desember dinilainya bisa memberikan suntikan daya beli masyarakat.
"Kami mempertahankan rekomendasi Overweight untuk sektor ini karena kami memperkirakan permintaan konsumen akan terus pulih pada kuartal IV-2025, seiring percepatan penyaluran bantuan sosial," ujar Jason dalam laporannya, Sabtu (6/12/2025).
Dari sisi valuasi, sektor ini masih terlihat menarik. Estimasi price to earning ratio (P/E) untuk full year 2026 berada di sekitar 17x.
"Ini berada pada kisaran -1 hingga dari rata-rata 5 tahun terakhir," tambahnya.
Sentimen penguatan harga broiler industri sepanjang kuartal IV juga disebutkan sebagai penopang utama kinerja emiten unggas. Di sisi lain, tekanan dari biaya pakan kemungkinan bisa diredam.
Pasokan jagung dari program stabilisasi pemerintah, ditambah proyeksi produksi bungkil kedelai global yang tinggi, dinilai mampu mencegah kenaikan biaya yang signifikan di awal 2026 nanti.
Sebagai catatan, program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Kementerian Pertanian telah menyalurkan 51 ribu ton jagung dengan harga Rp5.500 per kilogram. Harganya sekitar 8% lebih rendah dari rata-rata harga November 2025. Program ini tak cuma untuk mendukung petani lokal, tapi stok yang tersisa juga masih ada sekitar 42 ribu ton.
Nah, dari banyak emiten, dua perusahaan yang jadi sorotan adalah PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA). Jason melihat pemulihan penjualan CPIN akan berjalan lebih bertahap. Penyebabnya, tingkat persediaan atau inventory days mereka dinilai belum sepenuhnya normal.
Sementara itu, JPFA dinilai punya peluang lebih besar untuk menangkap gelombang permintaan tinggi akhir tahun ini.
"Kami menyukai JPFA karena fokusnya pada pengembangan bisnis consumer foods serta efisiensi biaya, yang diperkirakan mulai terealisasi dalam beberapa tahun ke depan," jelas Jason.
Untuk rekomendasi saham, Jason memberi rating ADD untuk CPIN dengan target harga Rp6.800 per saham. Per Jumat (5/12/2025), saham CPIN ditutup di level Rp4.770.
JPFA juga direkomendasikan ADD, dengan target harga Rp2.500. Namun menariknya, harga saham JPFA pada penutupan pekan kemarin sudah berada di Rp2.640 artinya, telah melampaui target yang ditetapkan analis.
Artikel Terkait
Laba Bersih PTBA Melonjak 104,8 Persen di Kuartal I-2026 Meski Pendapatan Stagnan
Paradise Indonesia (INPP) Cetak Laba Rp44 Miliar di Kuartal I-2026, Segmen Komersial Jadi Motor Pertumbuhan
Wall Street Beragam di Tengah Reli Bulanan, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Terbaik Sejak 2020
Wall Street Berakhir Campur Aduk, S&P 500 Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020