Ini yang paling penting: fundamentalnya lemah. Perusahaannya bisa aja lagi rugi atau kinerjanya biasa-biasa saja. Menurut sejumlah saksi, inilah yang paling sering dilupakan investor yang tergiur momentum. Mereka lupa melihat laporan keuangan, cuma fokus pada grafik hijau yang menjulang.
Fluktuasi harganya pun ekstrem banget. Bisa naik 20% di pagi hari, terus turun 15% sebelum pasar tutup. Pergerakan yang nggak stabil dan sangat volatil ini bikin deg-degan, dan berisiko tinggi buat yang nggak siap mental.
Di sisi lain, Bursa Efek Indonesia (BEI) biasanya sudah mengawasi. Kalau ada saham yang gerakannya dianggap nggak wajar, BEI bakal kasih sinyal peringatan yang namanya UMA atau Unusual Market Activity. Kalau suatu saham sering kena UMA, ya waspada aja.
Ciri lain, saham itu naiknya nggak didukung aksi korporasi apa-apa. Maksudnya, nggak ada pengumuman dividen, akuisisi, atau ekspansi bisnis yang bisa jadi alasan logis kenaikan harganya.
Intinya, main di saham gorengan itu ibarat judi. Memang ada yang bisa meraup untung besar dalam waktu singkat. Tapi resikonya jauh lebih gede. Begitu bandar menarik diri dan harga kolaps, kerugian yang diderita investor ritel bisa sangat dalam.
Jadi, mengenali tanda-tanda saham gorengan adalah keterampilan dasar yang harus dimiliki. Investasi yang bijak itu bertumpu pada analisis dan strategi jangka panjang, bukan cuma ikut-ikutan euphoria sesaat yang berujung pada penyesalan. Lebih baik lambat tapi pasti, daripada cepat tapi ujungnya malah buntung.
Artikel Terkait
Dana Rp 101 Triliun Danantara untuk BUMN Tekstil Baru, Bisakah Bangkitkan Pasar yang Lesu?
Danantara Buka Opsi Bentuk BUMN Tekstil, Utamakan Penciptaan Lapangan Kerja
RUPTL 2025-2034 Diuji di PTUN, Serikat Pekerja PLN Soroti Ancaman Kedaulatan Energi
Di Sudut Jalan, Ekonomi Kreatif Berdetak dengan Hukum Gotong Royong