Di sisi lain, soal kualitas, RDMP ini bakal membawa lompatan besar. Teknologi yang digunakan sudah berstandar global.
“Ada tiga teknologi inti dalam RDMP Balikpapan: Residual Fluid Catalytic Cracker (RFCC), Naptha Block, dan Hydrotreating Unit. Ini membuat kilang mampu menghasilkan BBM berstandar Euro V dengan kandungan sulfur di bawah 10 ppm,” jelasnya.
Dengan teknologi mutakhir itu, produk seperti RON 92 akan jauh lebih ramah lingkungan. Emisi dari kendaraan pun bisa ditekan.
Dampak ekonominya juga luar biasa. Selain menghemat devisa negara karena impor berkurang, proyek ini akan membuka lapangan kerja baru dan menggerakkan ekonomi lokal di sekitar kilang. Efek berantainya diperkirakan cukup besar.
“Dengan asumsi nilai ekonomi BBM sekitar Rp14.000 per liter, RDMP Balikpapan berpotensi menambah revenue KPI hingga Rp100 triliun per tahun, termasuk produk turunannya,” jelas Hadi.
Lalu, bagaimana dengan kesiapan operasionalnya? Hadi menyatakan keyakinannya pada Pertamina.
“Yakin, Pertamina sudah siap. Yang terpenting adalah tetap fokus pada aspek HSE saat kilang mulai beroperasi komersial,” katanya.
Jadi, rencana peresmian di akhir 2025 nanti bukan sekadar seremoni. Ini adalah salah satu proyek energi paling vital yang kita punya. Simbol transformasi, menuju kemandirian yang lebih nyata, efisien, dan berkelanjutan.
Artikel Terkait
Harga Ekspor Tembaga dan Emas Melonjak, Didorong Permintaan Global
Astra Siapkan Rp2 Triliun untuk Buyback, Saham ASII Diincar Lagi
Dana Negara Siap Selamatkan Industri Tekstil, BUMN Baru Dipertimbangkan
Menteri Purbaya Turun Langsung ke Kantor Danantara Usai Keluhan Pedas soal Coretax