Yang bikin merinding, saat pengumuman ini dikeluarkan untuk lebih dari 350 operator, sekitar 3.000 pesawat seri A320 sedang mengudara. Bayangkan saja.
Totalnya, ada sekitar 6.000 pesawat A320 yang akan terdampak. Solusi perbaikannya terbilang sederhana, yaitu dengan mengembalikan perangkat lunak ke versi sebelumnya. Namun begitu, perbaikan ini wajib dilakukan sebelum pesawat diizinkan terbang lagi, kecuali untuk penerbangan khusus menuju pusat perbaikan.
Gaji Fantastis Tapi AS Tetap Krisis Pelaut
Ini nih yang menarik. Beberapa perusahaan di Amerika Serikat yang menawarkan gaji awal terbaik justru kesulitan menarik minat tenaga kerja baru. Salah satu sektor yang paling terdampak adalah industri maritim.
Menurut laporan The Wall Street Journal (WSJ), lulusan akademi maritim di AS bisa langsung meraup pendapatan lebih dari USD 200.000 atau setara Rp 3,3 miliar per tahun sebagai pelaut komersial. Fasilitasnya juga oke banget, dapat makanan gratis plus kamar pribadi. Gak cuma itu, kehidupan di kapal menawarkan pengalaman unik: menjelajahi dunia, menikmati pemandangan laut yang luas, dan langit berbintang setiap malam.
Tapi anehnya, iming-iming gaji gede dan fasilitas wahid itu sepertinya belum cukup. Industri maritim AS tetap saja kekurangan tenaga kerja. Kondisi ini bahkan dianggap mengancam keamanan nasional.
Negara itu kini mengalami defisit pelaut komersial yang dibutuhkan untuk mendukung ekspansi armada kargo, sebuah program yang didorong oleh mantan Presiden Trump. Persoalannya makin rumit karena aturan yang mewajibkan perusahaan pelayaran mempekerjakan warga negara Amerika, sehingga minimnya kapal berbendera AS juga dipengaruhi oleh sulitnya mencari awak yang memenuhi syarat.
Artikel Terkait
Harga BBM Nonsubsidi Naik, Tiga Provinsi Berduka Dikecualikan
Wall Street Waspada: Euphoria AI Mulai Dipertanyakan Jelang Potensi The Fed Turunkan Suku Bunga
Waktu Tempuh Jakarta-Bandung Dipangkas Jadi Hanya Satu Setengah Jam
Menteri Keuangan Jepang Siap Turun Tangan, Ancang-ancang Intervensi untuk Selamatkan Yen