“Vivo kan kemarin sudah, sekarang kabar terakhir Shell memasuki tahap akhir,”
kata Laode, seperti dikutip dari Antara, di hari yang sama.
Kalau dilihat dari urutannya, Shell ini bukanlah pelaku pertama yang sepakat dengan Pertamina. Sebelumnya, sudah ada PT Aneka Petroindo Raya atau yang kita kenal sebagai SPBU BP-AKR. Mereka rencananya akan memasok hingga 3 kargo dari impor Pertamina. Lalu, ada juga PT Vivo Energy Indonesia yang sudah lebih dulu membeli 100 ribu barel.
Masalah stok ini sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Shell dan BP-AKR, misalnya, sudah mengalami kelangkaan BBM sejak pertengahan Agustus 2025 lalu. Vivo pun tak luput, ikut kehabisan stok di pertengahan Oktober.
Namun begitu, ada angin segar belakangan ini. Di akhir Oktober, pasokan di SPBU BP perlahan mulai normal. Kabar terbaru, stok untuk SPBU Vivo juga dikabarkan mulai berangsur pulih sejak Minggu, 23 November. Jadi, kesepakatan dengan Shell ini seperti penutup yang baik untuk rangkaian masalah stok yang sempat merepotkan banyak pihak.
Artikel Terkait
Pembangunan Pabrik Baru SCNP di Bogor Capai 70 Persen
IHSG Anjlok 1,44%, Saham MSKY dan JAYA Melonjak di Atas 34%
Rupiah Menguat ke Rp16.759 Didorong Harap Perundingan AS-Iran
Saham Jantra Grupo (KAQI) Melonjak 21,9%, Jadi Top Gainer Bursa