PSS Sleman Kehilangan Striker Andalan Gustavo Tocantins Jelang Laga Lawan Persela

- Kamis, 26 Februari 2026 | 20:30 WIB
PSS Sleman Kehilangan Striker Andalan Gustavo Tocantins Jelang Laga Lawan Persela

SLEMAN PSS Sleman bakal kehilangan senjata andalannya. Menjelang laga penting di kandang Persela Lamongan pada 1 Maret nanti, Gustavo Tocantins dipastikan absen. Penyebabnya? Akumulasi kartu kuning.

Ini bukan kehilangan biasa. Bayangkan, dari 19 pertandingan, striker asal Brasil itu sudah menceploskan 15 gol. Posisinya sebagai top skor kedua Championship menggambarkan betapa vital perannya. Bisa dibilang, dialah fondasi serangan Super Elang Jawa selama ini.

Pelatih Ansyari Lubis mengakui besarnya peran Tocantins. Tapi dia berusaha tenang.

“Hanya Tocantins yang absen. Selebihnya aman,” katanya.

Meski begitu, pertanyaan besar menganga. Tanpa sosok target man yang produktif itu, siapa yang akan mengisi kekosongan? Efektivitas serangan PSS diuji betul. Kedalaman skuad mereka akan mendapat sorotan tajam di Lamongan nanti.

Di sisi lain, Persela Lamongan sendiri sedang berbenah. Hasil yang fluktuatif dalam beberapa pekan terakhir memaksa mereka melakukan evaluasi internal. Laga melawan PSS ini jelas jadi momentum penting. Apalagi lawan datang tanpa striker utama. Situasi ini bisa jadi peluang emas bagi Persela untuk bermain lebih agresif dan memanfaatkan keuntungan kandang.

Tapi hati-hati. Di kompetisi sekelas Championship, absennya satu pemain bintang tak lantas mengubah segalanya. Justru sering kali, tim yang kehilangan pemain kunci malah tampil lebih solid. Mereka punya motivasi ekstra.

Lalu, bagaimana dengan PSIS Semarang?

Suasana di kubu Mahesa Jenar terasa berbeda. Di Lapangan POJ Semarang beberapa waktu lalu, latihan berlangsung panas. Intensitasnya tinggi, bahkan memicu ketegangan.

Aldair Simanca dan Rafinha terlibat duel keras dalam latihan internal. Adu argumen pun terjadi, sebelum akhirnya diredam pemain senior. Gesekan serupa juga terlihat antara Fahmi Al Ayyubi dan Esteban Vizcarra.

Namun begitu, pelatih Andri Ramawi punya pandangan lain. Baginya, gesekan seperti itu wajar. Itu cermin dari daya saing yang sehat.

PSIS memang sedang di fase genting. Peluang keluar dari zona degradasi masih terbuka, tapi syaratnya harus meraih poin penuh di Balikpapan. Tekanannya luar biasa.

Rafinha datang dengan kepercayaan diri membumbung setelah tampil gemilang di dua laga terakhir. Sementara Aldair merasa perlu membuktikan diri lagi. Kompetisi internal makin ketat, dan itu mungkin justru yang dibutuhkan.

Kalau kita lihat lebih luas, ada fenomena menarik di Liga 2 musim ini. Tim-tim jebolan Liga Super seperti PSS dan PSIS ternyata tak otomatis mendominasi. Nama besar tak lagi jadi jaminan.

PSS harus buktikan bisa menang tanpa mesin golnya. Persela berjuang mencari stabilitas. PSIS bertarung melawan tekanan klasemen yang mencekik.

Pada akhirnya, Liga 2 musim ini lebih dari sekadar ajang teknis. Ini adalah ujian mental yang sesungguhnya.

Di sini, yang menentukan bukan cuma kualitas individu. Kedalaman skuad, soliditas tim, dan kemampuan mengelola emosi di bawah tekanan punya peran besar.

Karena di fase-fase akhir seperti ini, yang bertahan biasanya bukan yang paling bertalenta. Melainkan yang paling tangguh menghadapi krisis.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar