Mercusuar yang Berkedip: Aendra Medita Soroti Krisis Arah Media dan Medsos

- Minggu, 28 Desember 2025 | 10:25 WIB
Mercusuar yang Berkedip: Aendra Medita Soroti Krisis Arah Media dan Medsos

Orasi Budaya Aendra Medita: Saat Media, Medsos, dan Manusia Kehilangan Arah

Sabtu petang, 27 Desember 2025, suasana di DC Corner, Jalan Ranggamalela, Dago Bandung, cukup hangat. Acara bertajuk "Refleksi Akhir Tahun 2025 Plus Harapan Tahun 2026" yang digagas Jala Bhumi Kultura (JBK) sedang berlangsung. Panggung sempat diramaikan oleh monolog Hermana HMT, pantomim Ismime, serta penampilan Duo Jos Dumber-Dumbers dan gerak tari kuartet Enung, Lina, Indri, dan Risma. Namun, puncak malam itu adalah Orasi Budaya yang disampaikan dengan lugas oleh Aendra Medita.

Kita hidup di zaman yang serba cepat. Informasi melimpah ruah, tapi kebijaksanaan justru langka. Semua orang bisa bicara, tapi sedikit yang benar-benar mau mendengar. Berita datang setiap detik, namun kebenaran terasa makin menjauh.

Dulu, media ibarat mercusuar di tengah gelap. Tak selalu sempurna, tapi setidaknya memberi pegangan. Sekarang? Mercusuar itu berkedip-kedip. Kadang menyala, kadang padam. Bahkan, tak jarang ikut tenggelam diterjang gelombang.

Banyak yang bertanya-tanya, kenapa media seolah rontok? Jawaban gampangnya: media sosial. Teknologi. Algoritma. Tapi menurut Medita, itu jawaban yang malas. Bukan medsos yang jadi biang kerok utama.

Media rontok karena kehilangan kompas moral dan intelektualnya. Ia kehabisan arah.

Medsos sebenarnya cuma cermin. Dan bayangan yang terpantul di sana seringkali menyakitkan. Kita lihat media yang terburu-buru, lebih takut kehilangan klik daripada kehilangan kepercayaan. Sibuk lomba cepat, lupa bertanya: "Ini beneran nggak, sih?"

Judul dibesar-besarkan. Emosi diperas, amarah sengaja dipelihara. Soalnya, kemarahan itu murah. Dan laku keras.

Di sinilah tragedi dimulai. Saat media mulai jualan emosi, ia berhenti merawat nalar. Ketika mengejar viral, verifikasi ditinggalkan. Begitu tunduk pada algoritma, tanggung jawab sosial pun dilepas.

Harus diakui, Indonesia sekarang nggak kekurangan informasi. Yang kurang adalah ketenangan berpikir. Setiap hari kita disuguhi opini yang dibungkus seolah fakta. Dijejali potongan realitas yang bikin marah atau takut, tanpa konteks dan kedalaman. Dan media sering ikut nimbrung dalam pesta kebisingan itu.

Padahal, tugas media seharusnya menjernihkan. Bukan menambah keruh. Bukan menyulut api, tapi membantu kita melihat mana asap dan mana sumber apinya. Sayangnya, ketakutan ditinggal audiens, takut angka turun, takut kalah cepat perlahan menggerogoti integritas.

Di tengah semua ketakutan itu, media lupa satu hal: kepercayaan nggak dibangun dari kecepatan, tapi dari konsistensi pada kebenaran.

Nah, soal media sosial. Medsos memang memberi ruang luar biasa. Membuka pintu bagi suara-suara yang dulu dibungkam. Itu awalnya adalah harapan. Tapi tanpa literasi, kebebasan bisa berubah jadi kekacauan.

Di dunia medsos, yang paling keras sering dianggap paling benar. Yang paling marah dianggap paling peduli. Algoritma nggak peduli kebenaran; ia cuma cari atensi. Dan atensi paling gampang didapat dari konflik dan kebencian.

p>Masalahnya, ketika media ikut main dengan logika ini, ia bukan lagi penyeimbang. Ia jadi bagian dari masalah. Maka, kita perlu berhenti sejenak dan tanya: media mau jadi apa? Sekadar pabrik konten? Atau tetap jadi ruang publik tempat nalar dan etika bertemu?

Kalau cuma mengejar trafik, media bakal kalah. Kalah dari influencer, dari kreator individu, bahkan dari mesin AI. Satu-satunya keunggulan media yang tersisa adalah kepercayaan. Dan itu nggak bisa diakali.

Ada hal lain yang mungkin nggak nyaman didengar. Krisis media sekarang ini bukan cuma krisis industri. Ini krisis budaya berpikir. Kita terbiasa dengan segala yang instan, cepat, ringkas. Kita mulai nggak sabar dengan proses.

Padahal, kebenaran nggak pernah instan. Verifikasi itu lambat. Pendalaman itu melelahkan. Menyajikan konteks nggak seksi. Tapi tanpa itu semua, media kehilangan rohnya.

Lalu, bagaimana dengan publik? Gampang menyalahkan media, dan kadang itu benar. Tapi kita juga perlu bercermin. Sering kan, membagikan berita tanpa baca isinya? Percaya karena cocok dengan emosi, bukan karena validasi. Ingin media ideal, tapi sendiri malas bersikap kritis.

Jadi, ini krisis bersama. Media tanpa publik yang kritis akan mudah tergelincir. Publik tanpa media yang bertanggung jawab akan gampang dimanipulasi.

Indonesia nggak kekurangan kecerdasan. Yang kita butuhkan adalah kesediaan untuk berpikir pelan di dunia yang serba cepat. Media masa depan bukan yang paling ramai, tapi yang paling jelas sikapnya.

Bukan yang pura-pura netral di tengah ketidakadilan, tapi yang jujur pada nilai kemanusiaan. Netral bukan berarti diam. Objektif bukan berarti tak punya keberpihakan. Media harus berpihak pada fakta, pada kebenaran, pada martabat manusia.

Saya percaya media nggak akan mati. Yang mati adalah media yang nggak mau berubah. Media masa depan mungkin akan lebih kecil, lebih fokus pada segmen tertentu. Tapi lebih dalam. Ia nggak akan kejar semua orang, tapi melayani audiens yang sadar dan mau berpikir. Ia akan membangun sistem, bukan cuma semangat sesaat.

Untuk generasi muda, para kreator dan jurnalis baru, pesan Medita: Jangan takut untuk lambat, asal benar. Jangan takut nggak viral, asal jujur. Dalam jangka panjang, kebenaran selalu nemuin jalannya sendiri.

Kita nggak sedang perang antara media lawan medsos. Kita sedang berperang antara nalar dan kebisingan. Dan perang ini nggak dimenangkan oleh teknologi, tapi oleh pilihan etis. Pilihan untuk bertanggung jawab atas apa yang kita produksi, berhenti mengeksploitasi emosi, dan merawat akal sehat publik.

Pada akhirnya, media bukan soal platform. Ia soal manusia. Dan masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh seberapa jujur kita pada informasi yang kita sebarkan hari ini.

(Imam Wahyudi)

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar