Bagi yang penasaran, sebenarnya apa sih bisnis utama PT Bundamedik Tbk (BMHS) di pasar saham? Emiten kesehatan ini dikenal luas sebagai pengelola RS Bunda, rumah sakit swasta ternama di Indonesia. Tapi sebenarnya, jangkauan usahanya jauh lebih luas dari sekadar satu rumah sakit.
Perjalanan BMHS dimulai jauh sebelum menjadi perusahaan publik. Semuanya berawal dari sebuah klinik persalinan sederhana yang didirikan oleh Dr. Rizal Sini SpOG pada 1961. Klinik ini kemudian berkembang pesat dan resmi beroperasi sebagai RS Bersalin Bunda pada 1973. Dari sanalah fondasi bisnis mereka dibangun.
Seiring waktu, Bundamedik tak hanya mengandalkan layanan rumah sakit. Mereka gencar melakukan diversifikasi. Kini, setidaknya ada tiga pilar bisnis utama yang menjadi tulang punggung perusahaan: rumah sakit, klinik fertilitas, dan laboratorium klinik diagnosis. Ketiganya saling melengkapi dan menciptakan ekosistem kesehatan yang terintegrasi.
Tak berhenti di situ, perseroan juga merambah berbagai segmen kesehatan lainnya. Mulai dari farmasi, unit gawat darurat, hingga pelatihan medis. Bahkan, mereka juga menggarap medical tourism yang belakangan semakin diminati.
Hingga akhir 2024, angka-angka yang dicapai BMHS cukup impresif. Mereka mengelola empat rumah sakit umum, lima rumah sakit khusus ibu dan anak, plus satu rumah sakit jantung. Jaringannya pun tersebar di berbagai kota besar seperti Jabodetabek, Padang, Palembang, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Bali, Pontianak, dan Makassar.
Di sisi lain, divisi fertilitas mereka yang beroperasi dengan brand Morula IVF menunjukkan perkembangan signifikan. Saat ini sudah ada 15 klinik fertilitas langsung di bawah kendali mereka, ditambah 126 jaringan klinik lainnya yang lebih luas.
Yang menarik, BMHS juga punya terobosan lewat platform Klinik Pintar. Melalui platform ini, lebih dari 3.000 klinik pihak ketiga bisa dikelola dengan sistem yang mereka kembangkan. Ini menunjukkan adaptasi mereka terhadap teknologi kesehatan digital.
Tak kalah penting, aspek laboratorium. Anak usaha mereka, PT Diagnos Laboratorium Utama Tbk (DGNS), bahkan sudah menjadi perusahaan publik sendiri. Saat ini, BMHS mengoperasikan 36 laboratorium yang mendukung layanan diagnostik.
Di tingkat rumah sakit, layanan yang ditawarkan sangat komprehensif. Pasien bisa mengakses pusat fisioterapi, pusat otak dan syaraf, hingga pusat onkologi dan kardiovaskular. Semua dirancang untuk memenuhi kebutuhan kesehatan yang semakin kompleks.
Sebagai catatan, RS Bunda termasuk pelopor dalam penggunaan operasi robotik di Indonesia. Teknologi ini memungkinkan prosedur bedah dengan invasif minimal, yang tentunya mempercepat pemulihan pasien.
Dari sisi struktur perusahaan, BMHS memiliki 17 entitas anak dengan kepemilikan langsung. Belum lagi anak usaha lain yang dikelola secara tidak langsung. Ini menggambarkan betapa besar dan kompleksnya bisnis kesehatan yang mereka bangun.
Kepemilikan Saham dan Performa di Bursa
Bundamedik resmi menjadi perusahaan publik pada 6 Juli 2021. Kala itu, mereka melepas 682 juta saham dengan harga penawaran Rp340 per lembar. Total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp210,80 miliar.
Hingga 25 November 2025, saham BMHS ditutup di level Rp212. Dengan total saham beredar 8,60 miliar lembar, kapitalisasi pasarnya menyentuh angka Rp1,94 triliun.
Siapa yang mengendalikan perusahaan ini? Berdasarkan data per 31 Oktober 2025, Ivan Rizal Sini tercatat sebagai pemegang saham pengendali dengan 278,6 juta saham atau setara 3,24 persen.
Struktur kepemilikannya didominasi oleh PT Bunda Investama yang memegang 57,37 persen saham. Sementara kepemilikan keluarga pendiri terlihat jelas:
Ivan Rizal Sini: 3,24%
Mesha Rizal Sini: 3,24%
Renobulan Rizal Sini: 2,42%
Rito Alam Rizal Sini: 3,24%
Ietje Ika S. Rizal Sini: 1,82%
Masyarakat investor menguasai 28,31 persen saham BMHS. Meski kepemilikan langsung Ivan terlihat tidak besar, namun dia ditetapkan sebagai penerima manfaat akhir dari kepemilikan saham perseroan.
Ivan sendiri menjabat sebagai Komisaris Utama dan masih memiliki hubungan keluarga dengan pendiri perusahaan. Ini menunjukkan bahwa bisnis keluarga masih tetap terjaga meski perusahaan sudah go public.
Performa saham BMHS cukup fluktuatif. Dalam lima hari terakhir, harganya melonjak 38,56 persen. Namun jika dilihat sejak awal tahun, justru terjadi penurunan sebesar 15,20 persen. Fluktuasi yang wajar untuk saham sektor kesehatan di tengah dinamika pasar.
Begitulah profil singkat BMHS, sebuah perusahaan kesehatan yang tumbuh dari klinik kecil menjadi grup besar dengan jangkauan nasional.
Artikel Terkait
Analis Sucor: Saham Unggulan Tertekan Jauh di Bawah Nilai Wajar
Analis Proyeksikan IHSG Lanjutkan Penguatan, Waspadai Potensi Koreksi
AMOR Cairkan Dividen Interim Tahap II Rp28,6 Miliar, Yield 3,51%
BLUE Konfirmasi Akuisisi 80% Saham oleh Perusahaan Tambang Hong Kong