Harga minyak kembali menunjukkan penguatan signifikan di awal pekan ini. Pada sesi perdagangan Senin (24/11/2025), kedua patokan minyak dunia berhasil mencetak kenaikan lebih dari 1 persen. Sentimen pasar kali ini didorong oleh harapan bahwa The Fed bakal memangkas suku bunga bulan depan.
Di sisi lain, keraguan mulai muncul soal kemungkinan tercapainya kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina. Kalau sampai perundingan buntu, ekspor minyak Moskow bisa terhambat lagi. Ini jelas bikin trader minyak waspada.
Futures minyak Brent naik 1,3 persen ke level USD63,37 per barel. Sementara WTI juga ikut menguat 1,3 persen menjadi USD58,84 per barel. Padahal, Jumat lalu kedua harga ini sempat terjun bebas ke level terendah sejak akhir Oktober.
Analis Ritterbusch and Associates punya pandangan menarik. Mereka bilang penurunan harga beberapa waktu lalu terutama dipicu kabar majunya negosiasi damai.
"Tapi menurut kami, pengurangan premi risiko lebih dari 5 persen itu berlebihan banget," tulis mereka dalam catatan terbaru.
Mereka mengingatkan, perang masih bisa berlarut-larut dan sewaktu-waktu memicu kembali ketegangan geopolitik yang berdampak pada harga minyak.
Ada hal lain yang seharusnya bisa mendongkrak harga: sanksi AS terhadap Rosneft dan Lukoil yang mulai berlaku Jumat lalu. Tapi pasar tampaknya lebih fokus ke perkembangan perundingan damai.
Kondisi Rusia sendiri sedang tidak bagus-bagus amat. Pendapatan minyak dan gas perusahaan negara mereka diprediksi turun sekitar 35 persen year-on-year di November, jadi cuma 520 miliar rubel (sekitar USD6,59 miliar). Pelemahan harga minyak dan penguatan rubel disebut-sebut sebagai biang keroknya.
Presiden Dewan Eropa Antonio Costa menyambut baik 'momentum baru' dalam upaya mengakhiri perang di Ukraina. Dia menegaskan Uni Eropa bakal terus mendukung Kyiv.
Sementara itu di Amerika, Gubernur Fed Christopher Waller memberikan sinyal penting. Katanya, data pasar tenaga kerja terbaru menunjukkan kondisi yang cukup lemah untuk mendukung pemotongan suku bunga seperempat poin.
Logikanya sederhana: suku bunga rendah bisa memacu pertumbuhan ekonomi, yang ujung-ujungnya mendongkrak permintaan minyak.
Tapi para broker global masih belum satu suara. Mereka terbelah soal kemungkinan Fed benar-benar akan menurunkan suku bunga di pertemuan Desember nanti. Data pekerjaan pekan lalu memang memberikan sinyal yang campur aduk.
Di Eropa, situasinya juga nggak terlalu cerah. Survei terbaru di Jerman menunjukkan sentimen bisnis justru turun tak terduka di November. Perusahaan-perusahaan semakin pesimis dengan prospek pemulihan ekonomi mereka.
JPMorgan memproyeksikan harga Brent di USD57 per barel dan WTI di USD53 pada 2027. Untuk 2026, mereka pertahankan perkiraan di level USD58 dan USD54.
Berita terpisah datang dari Venezuela. AS secara resmi menetapkan kartel Cartel de los Soles sebagai organisasi teroris asing. Sanksi terorisme ini menimpa kelompok yang menurut Washington melibatkan Presiden Nicolas Maduro dan sejumlah pejabat tinggi.
Sebagai anggota OPEC, sanksi terhadap Venezuela ini cenderung menopang harga minyak global karena membatasi ekspor mereka.
Oh ya, Presiden AS Donald Trump juga sempat bercakap telepon 'sangat baik' dengan Presiden China Xi Jinping. Mereka bahas perang Ukraina, perdagangan fentanyl, plus kesepakatan untuk sektor pertanian.
Buat pelaku pasar energi, komunikasi positif antara dua raksasa ekonomi dunia ini jelas jadi angin segar. Hubungan baik AS-China biasanya bikin permintaan minyak lebih optimis.
Artikel Terkait
Cerebras Systems Ajukan IPO di Nasdaq Didukung Komitmen Besar OpenAI
Harga Minyak Sawit Malaysia Melemah, Dihantam Permintaan Lesu dan Anjloknya Harga Minyak Dunia
Investor Asing Lepas Saham Rp2,4 Triliun, IHSG Justru Naik 2,35%
BFIN Alokasikan Seluruh Saham Treasuri untuk Program MESOP Karyawan